RSS

Friday, July 30, 2010


Assalamualaikum..sebenarnya sudah lama saya tidak berN3...niat tu ada tetapi disebabkan oleh beberapa perkara yang tak dapat dielakkan so niat tersebut terpaksa lah ditangguhkan sebentar...sebenarnya N3 ini adalah berkaitan dengan kedatangan bulan Ramadhan ...Diam tak diam tinggal lebih kurang 10 hari lagi kita akan menyambut bulan yang mulia dan penuh barakah ini...jadi sempena dengan kedatangan bulan Ramadhan ini...sempat saya copy artikel yang diterbitkan oleh Badan Kakitangan Kebajikan Islam NPC..semoga artikel ini dapat dimanfaatkan oleh para pembaca sekalian...

Alhamdulillah syukur kita ke hadrat illahi kerana dengan limpah kurnianya kita
telah dipanjangkan umur untuk sekali lagi dapat menyambut Ramadhan Al
Mubarak. Bulan Ramadhan adalah bulan penting untuk umat islam, bulan umat
islam menjalani ibadah puasa, bulan kita di beri peluang oleh Allah SWT untuk
menyuci diri dari dosa dan noda dan bulan untuk menambah amal kebajikan
untuk mendapat ganjaran pahala berlipat kali ganda

Untuk mengambil peluang menjalani ibadah puasa Ramadhan dan mendapatkan
barakah dalam bulan Ramadhan ini seharusnya kita mepersiapkan diri dangan
sewajarnya. Persiapan mental, fizikal di tambah dengan roh keimanan adalah
persiapan yang sebaiknya. Contoh tanda aras persiapan Ramadhan orang –
orang yang soleh adalah mereka biasa melakukan persiapan seawal mungkin
sebelum datang Ramadhan. Bahkan mereka sudah merindukan kedatangannya
sejak bulan Rajab dan Sya'ban. Ini dapat dilihat dari doa mereka, "Ya Allah
berikanlah kepada kami keberkatan pada bulan Rajab dan Sya'ban, serta
sampaikanlah kami kepada Ramadhan."

RAMADHAN: BULAN TAWARAN MEGA SPESIAL DARIPADA ALLAH SWT

Allah SWT yang maha Pemurah lagi maha Penyayang telah dengan murah
hatinya melontarkan tawaran mega spesial kepada kita umat Islam. Di dalam
tawaran mega spesial ini pelbagai hadiah, insentif dan habuan yang menarik
serta lumayan yang tiada tandingannya di muka bumi ini disediakan untuk di
rebut. Tawaran mega spesial ini di buka selama satu bulan sepanjang bulan
Ramadhan, bulan di mana amal ibadah di beri ganjaran pahala gandaan seribu
bulan. Di bawah skim tawaran yang sudah mega itu di selit lagi dengan sub
tawaran yang lebih mega untuk 10 malam terakhir bulan Ramadhan, Malam
Lailatul Qadar. Allah menjemput kita untuk merebut tawaran ini sebagai
tamuNya, mendekatkan diri kepadaNya dengan nisbah sedikit tambahan dalam
amal ibadah di bulan ini akan di beri ganjaran dalam nisbah seribu kali ganda.
Tawaran ini boleh di analogikan sebagai jemputan kenduri illahi (divine feast).
Kita di jemput ke kenduri Illahi ini sebagai tetamu Allah untuk mendapat
perlindungan, keampunan dan kerahmatan daripadaNya. Tawaran mega ini
adalah bukti betapa Allah menyanyangi kita dan mahukan kita mendekatkan diri
kita kepadaNya, mengingati kita dan mahukan kita mengingatiNya, bersedia
menolong kita dengan syarat kita memohon pertolongan daripadaNya bukan
selain daripadaNya. Allh SWT mahu kita membersihkan diri daripada dosa dan
noda sebagai bekalan untuk kembali kepadaNya. Jemputan untuk bertamu
sebagai tetamu Allah ke kenduri Illahi anjuran dan tajaan Allah ini perlu direbut
sebanyak mungkin. Rugilah kita kalau tidak merebut peluang ini. Peluang yang
hanya datang setahun sekali. Menyahut jemputan ini perlulah dengan persiapan
yang sewajarnya. Setiap orang beriman adalah tetamu VVIP. Sebagai tetamu
VVIP kita pastinya menyambut dan memenuhi jemputan ini dengan hati yang
senang, gembira, girang dan penuh iltizam untuk memberikan yang terbaik
sebagai tamu yang di muliakan.




CADANGAN BEKALAN YANG PERLU DALAM MENGISI RAMADHAN

Ramadhan dijelaskan oleh Rasulullah saw sebagai syahrul azhim mubarak, yakni bulan yang sangat agung dan berlimpah keberkahan serta kebaikan. Bulan yang pada sepuluh hari pertamanya tercurah rahmat,sepuluh hari keduanya berlimpah maghfirah (ampunan) dan sepuluh hari terakhirnya pembebasan dari api neraka.

Masih banyak lagi keutamaan yang menghampar di bulan Ramadhan. Tapi semua itu tidak mungkin dapt diraih tanpa ada persiapan-persiapan yang serius. Di sinilah peranan para dai, ustaz, ulama dan organisasi Islam sangat diperlukan untuk menggerakkan tau'iyah Ramadhan, yakni memberi panduan dan kesedaran kepada masyarakat tentang Ramadhan dengan segala keutamaannya serta bagaimana menyikapi dan mengisinya. Keperluan untuk memberi panduan dan kesedaran Ramadhan bukan hanya menjelang Ramadhan tetapi harus dilakukan seawal mungkin agar nantinya ketika masuk pada bulan Ramadhan masyarakat sudah faham bagaimana mengisi Ramadhan dengan kesedaran dan kefahaman yang tinggi, sehingga mereka dapat memberi tumpuan kepada ibadah di bulan Ramadhan ini seoptimum mungkin 

Betapa pentingnya pembekalan mengisi bulan Ramadhan ini dapat di lihat senarionya di zaman Rasulullah. Para sahabat Rasulullah yang keimanannya sudah mantap, masih lagi diberi taujihat (pengarahanpengarahan) oleh beliau ketika akan memasuki Ramadhan. Inikan pula kita yang keimanan jauh dari taraf sahabat – sahabat di zaman Rasulullah


Bekal Utama

Secara pribadi, setiap muslim wajib membekali dirinya dengan persiapan optimum yang berkaitan dengan ibadah Ramadhan agar secara internal bersedia memasuki bulan Ramadhan. Ada dua persiapan penting yang harus dilakukan dalam rangka tau'iyah Ramadhan, yakni mempersiapkan pribadi setiap muslim (i'dadun nafsi) mempersiapan bi'ah (persekitaran) yang kondusif.

Persiapan pribadi itu terdiri dari lima hal. 

Pertama, I'dad Ruhi Imani, yakni
persiapan ruh keimanan. Orang – orang yang soleh biasa melakukan persiapan ini seawal mungkin sebelum datang Ramadhan. Bahkanmereka sudah merindukan kedatangannya sejak bulan Rejab dan Sya'ban. Ini dapat dilihat dari doa mereka, "Ya Allah berikanlah kepada kami keberkatan pada bulan Rajab dan Sya'ban, serta sampaikanlah kami kepada Ramadhan."
 
Dalam rangka persiapan ruh keimanan itu, dalam surah At-Taubah Allah melarang kita melakukan berbagai maksiat dan kezaliman sejak bulan Rajab. Tapi bukan bererti di bulan lain dibolehkan. Hal ini dimaksudkan agar sejak bulan Rejab iman kita sudah meningkat. Boleh dikiaskan,bulan Rejab dan Sya'ban adalah masa pemanasan (warming up) sehingga ketika mula start memasuki Ramadhan kita sudah boleh meluncur seperti biasa

Kedua, adalah I'dad Jasadi, yakni persiapan fizikal. Untuk memasuki Ramadhan secara fizikal, kita perlukan tahap kesihatan yang lebih baik dari biasanya. Sebab, jika fizikal lemah, kemuliaan-kemuliaan yang dilimpahkan Allah di bulan Ramadhan memungkinkan kita tidak dapat meraihnya secara optimum. Makanya, pada bulan Rajab Rasulullah dan para sahabat membiasakan diri melatih fizikal dan mental dengan melakukan puasa sunnah, banyak berinteraksi dengan al-Qur'an, biasa bangun malam (qiyamul-lail) dan meningkatkan urusan mengambil tahu dan mengambil berat ehwal masyarakat.

Ketiga, adalah I'dad Maliyah, yakni persiapan harta. Jangan salah faham,persiapan harta bukan untuk membeli keperluan logistik buka puasa atau kuih-muih lebaran sebagaimana yang menjadi tradisi kita selama ini, tapi untuk melipatgandakan sedekah, karena Ramadhan merupakan bulan membanyakkan sedekah. Pahala bersedekah pada bulan ini berlipat ganda dibanding bulan biasa.

Keempat, adalah I'dad Fikri wa Ilmi, yakni persiapan fikiran dan ilmu. Agar ibadah Ramadhan dapat di optimumkan diperlukan bekal wawasan dan tashawur (persepsi) yang benar tentang Ramadhan. Caranya dengan membaca berbagai bahan rujukan dan menghadiri majlis ilmu tentang Ramadhan yang boleh membimbing kita beribadah Ramadhan dengan sempurna sesuai tuntutan Rasulullah. Menghafal ayat-ayat dan doa-doa
yang berkait dengannya, menguasai berbagai masalah dalam fiqh puasa dan lain-lain juga penting dilakukan.

Selain persiapan-persiapan individu tersebut, persiapan sosial juga sangat penting dalam mewujudkan Ramadhan yang sempurna, kerana betapapun semangatnya seseorang itu menyambut Ramadhan, tetapi kalau persekitarannya tidak selari dengannya seperti jika dia berada di tengah masyarakat yang mengambil enteng puasa, maka peribadi
tersebut akan terkena juga pengaruh dan godaannya.

Pengkondisian persekitaran itu perlu dilakukan di mana saja. Di rumah misalnya, sebaiknya memberi semangat anak-anak dengan nasihat tentang puasa, dibelikan kain sejadah atau mushaf Al-Quran yang baru. Di persekitaran luar dipasang berbagai publisiti seperti spanduk, sticker,brosur dsb untuk mengingatkan masyarakat tentang Ramadhan dan keutamaannya.

Tak kurang pentingnya, masjid dan mushalla hendaknya dihias lebih indah, bersih dan nyaman. Sehingga, orang yang berada di dalamnya merasa lebih selesa, tenteram serta merasai suasana ramadhan. Begitu juga dengan kegiatannya harus beraneka-ragam dan bersepadu. Jangan cuma tarawih dan buka puasa bersama (ifthar jama'i) saja tapi buat
halaqah Qur'an, tadarus bersama, kajian tafsir dan fiqih dan lain-lain. Laksanakan program sebanyak-mungkin supaya masyarakat boleh menyerap ke dalam warna Islami agar ia berkesinambungan juga diluar bulan Ramadhan.

Puasa yang Berjaya

Ibadah Ramadhan yang berjaya dan terbaik adalah yang berhasil meraih ketaqwaan dan boleh mempertahankannya untuk selama sebelas bulan berikutnya. Untuk mencapai kejayaan ini ada beberapa hal yang harus dilakukan. 

Pertama, meningkatkan kualiti puasa yang tidak hanya menahan diri daripada makan dan minum tetapi juga melatih jiwa untuk boleh berfikir dan berperilaku hidup Islami.

Kedua, meningkatkan interaksi dengan al-Qur'an. Inilah hikmahnya Al-Qur'an diturunkan pada bulan Ramadhan agar kita mengambil iktibar untuk melelebihkan intensiti membaca, memahami dan mengikuti tuntutan Al Quran . Mustahil orang akan bertaqwa kalau tidak mengkaji Al-Qur'an. Ketiga, memperhatikan aturan-aturan Allah dan tidak dilanggar agar terbentuk kedisiplinan diri untuk tidak menyeleweng dari garis ketentuan Allah. 

Keempat, beri'tikaf di masjid pada 10 hari terakhir yang menandakan dekatnya hubungan kita dengan Allah karena selalu berada di dalam masjid, dengan jalan zikir, ibadah dan tafakur.·



10 SENARAI SEMAK PERSIAPAN DAN PERLAKSANAAN PUASA

1) Niatkan rasa sukacita kita dalam hati akan kedatangan bulan suci Ramadhan,
“Barang siapa yang dihatinya merasa gembira akan kedatangan bulan
Ramadhan, maka Allah haramkan jasadnya untuk masuk neraka” – Al-hadith

2) Memohon ma’af kepada kedua orang tua, suami/isteri, anak, saudara dan
para sahabat atau kerabat anda, dimana setiap hari anda berhubungan
dengannya, lupakan kesalahan saudara Muslim anda yang pernah terjadi
selama anda berhubungan

3) Bersihkan pakaian taqwamu dari hadas, najis mahupun penyakit hati (iri,

dengki, hasad, hasut, tamak, haloba, sombong, mencela, dendam,
berbohong) sebelum , ketika menjalankan ibadah puasa mahupun
sesudahnya

4) Niatkan dalam hati untuk melaksanakan ibadah puasa ini dengan penuh
kesungguhan dan sekuat tenaga untuk mejalankan juga ibadah – ibadah
nafila (tambahan)

5) Tingkatkan Iman dan Taqwa, Selenggarakan & hadiri majlis ilmu Islam
ditempat anda.

6) Perbanyak membaca dan memahami Al-Qur’an Al-Karim, kalau mampu
upayakan khatam 1 (satu) Juz selama ibadah puasa dan jadikan amalan
dalam hidup setelah Ramadhan berlalu

7) Lakukan aktiviti biasa anda sehari-hari dan tingkatkan kualitinya selama
Ibadah puasa, tinggalkan perbuatan maksiat dan perbuatan yang sia-sia
tanpa nilai pahala

8) Tingkatkan amar ma’ruf nahi munkar, saling nasihat menasihati di jalan Allah
dan perbayak bersabar.

9)
Usahakan anda beri’tikaf ( berdiam diri / menginap di dalam Masjid untuk
memperbanyak kegiatan ibadah) selama 10 (sepuluh) hari terakhir
Ramadhan, sesuai sunnah Rasulmu

10)Ingatlah, bukan pakaian yang baru yang diterima disisi Allah SWT tetapi
kebagusan ibadah kita yang utama.



PANDUAN ASAS PUASA DAN SEMBAHYANG SUNAT TARAWIH

PUASA

(Petikan dari Kitab Tuntutan Ibadah: Perukunan Ibadah Sepanjang Zaman oleh As-
Shaikh Ali b. Abdullah)

Ertinya:
Menahan diri dari makan dan minum atau apa-apa jua yang boleh membatalkan puasa,
sepanjang hari mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari dalam sebulan bulan
Ramadhan.


Perintah wajib puasa turun pada bulan Sya’ban Tahun 2 Hijrah.

Dalil

Perintah wajib puasa : Surah Al-Baqarah Ayat 183:


Bermaksud: Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atasmu berpuasa, sebagaimana
diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, supaya kamu menjadi orang yang
bertaqwa

Wajib Puasa:

1) Islam
2) Mukalaf
3) Berkuasa/Mampu untuk berpuasa, tidak uzur
4) Telah melihat anak bulan Ramadhan atau mensabitkan bulan Ramadhan

dengan menggenapkan bulan Sya’ban 30 hari.

Sah Puasa:

1)
Beragama Islam sahaja, lelaki, perempuan dan kanak-kanak yang telah

mumaiyyiz.
2) Suci dari haid dan nifas.
3) Sempurna akal fikirannya sepanjang hari itu.
4) Bukan pada hari yang tidak sah puasa eg. Hari Raya Puasa, Hari Raya Haji dan

Hari Syak (30hb Sya’ban).

Rukun Puasa:

1)
Niat, di waktu malam mulai selepas Maghrib sampai sebelum terbit fajar.

2)
Meninggalkan semua perkara-perkara yang membatalkan puasa sejak terbitnya
fajar sampai terbenamnya matahari.



Membatalkan Puasa:
Sekiranya

1) Memasukkan benda/sesuatu ke dalam jauh rongga seperti mulut, hidung,
telinga, atau lubang-lubang kemaluan dengan sengaja.
2) Muntah dengan sengaja.
3) Mengeluarkan mani dengan sengaja.
4) Haid atau nifas.
5) Bersetubuh di siang hari (selain membatalkan puasa ia juga ada hukum
tersendiri iaitu diwajibkan membayar kifarah).
6) Murtad (keluar dari Islam).
7) Gila (hilang akal).

Pantang-larang puasa:


Iaitu perkara-perkara yang membatalkan pahala puasa, maknanya berpuasa tidak
mendapat apa-apa pahala kecuali lapar dan dahaga (puasa yang sia-sia).


1) Berdusta, berbohong.
2) Mengumpat, mengata orang.
3) Membuat sesuatu yang boleh mendatangkan permusuhan.
4) Melihat benda-benda yang mendatangkan keinginan nafsu shahwat.
5) Marah.


Rasulullah s.a.w. bersabda:


Bermaksud: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan cakap dusta (batil) dan
perbuatannya, maka Allah tidak berhajat padanya dalam meninggalkan makan
minumnya”.

(Hadis Riwayat Muslim)

Bermaksud: “Bukan dinamakan puasa bila hanya sekadar menahan makan dan
minum, tetapi puasa yang sungguh-sungguh itu adalah menahan diri dari percakapan
yang tidak ada gunanya dan kata-kata yang keji”.

(Hadis menurut Sahih Muslim)
Sunat-sunat Puasa:
1) Menyegerakan berbuka puasa apabila telah yakin waktu berbuka.


Rasulullah s.a.w. bersabda:

Bermaksud: “Allah berfiman: Hambaku yang lebih Aku cintai adalah mereka
yang menyegerakan berbuka”.

2) Makan sahur walaupun sedikit.



Rasulullah s.a.w. bersabda:

Bermaksud: “Makan sahur itu berkat, oleh kerana itu jangan kamu tinggalkan,
walau hanya sekadar meneguk seteguk air, kerana Allah merahmati orang-
orang yang makan sahur dan malaikat mendoakannya”.

3)
Melambatkan makan sahur iaitu lepas daripada tengah malam dan sebelum
waktu imsak.

4)
Berbuka dengan buah kurma atau benda-benda yang manis.

5)
Memperbanyakkan membaca Al-Quran.

6)
Memperbanyakkan sedekah.

7)
Beriktikaf siang hari dalam masjid.

8)
Menghadiri majlis-majlis ilmu.

9)
Menyediakan makanan untuk berbuka untuk orang-orang berpuasa.

10)
Jangan bersugi setelah tergelincir matahari ke arah barat sehingga terbenamnya
matahari kerana boleh memakruhkan puasa.

Golongan Yang Harus (Dibenarkan) Berbuka Puasa:

1)
Orang yang di dalam (perjalanan - musafir), tetapi wajib di qadha’.

2)
Orang sakit, wajib di qadha’.

3)
Ibu yang menyusukan anak, jika takut mudharat bagi dirinya, maka wajib qadha’

dan jika takut mudharat bagi anaknya maka wajib qadha’ dan fidyah.

Bacaan Niat Puasa:
1) Lafaz niat puasa Fardhu Ramadhan



“Sahaja aku berpuasa esok hari menunaikan Fardhu Ramadhan tahun ini kerana Allah
Taala”.

Bacaan Hendak Berbuka Puasa:


“Ya Tuhanku, keranaMu jua aku berpuasa, dan denganMu aku beriman dan di atas
rezekiMu aku berbuka dengan belas kasihMu Ya Allah Ya Amat Mengasihi”.



SEMBAHYANG TARAWIH

1.
Hukum Sembahyang Tarawih:
a)
Hukumnya sunat muakkad (yang sangat dituntut) bagi dikerjakan oleh
orang-orang Islam lelaki dan perempuan pada tiap-tiap malam bulan
Ramadhan samada secara berseorangan atau berjamaah.

b)
Sunnat dikerjakan di masjid, surau dan lain-lain tempat sembahyang
orang-orang Islam.

2.
Waktu Sembahyang Tarawih:
Waktu sembahyang Tarawih ini ialah selepas menunaikan sembahyang Fardhu
Isya’.

3.
Rakaat Sembahyang Tarawih:
a)
Pada umumnya masyarakat Islam di Malaysia mendirikan sembahyang
Tarawih ini sebanyak 20 rakaat, tetapi ada juga yang hanya menunaikan
sekadar 8 rakaat sahaja.

b)
Pada zaman Rasulullah s.a.w. sembahyang Tarawih dikerjakan sebanyak
8 rakaat saja supaya tidak menimbulkan sesuatu keberatan.

c)
Pada zaman Khalifah Umar bin Al-Khattab pula beliau menambah lagi
menjadikan 20 rakaat kerana beliau berpendapat bahawa orang-orang
Islam pada zamannya itu tidak keberatan lagi menunaikan sembahyang
sebanyak itu.

d)
Sembahyang Terawih hendaklah ditunaikan dua rakaat, pada tiap-tiap
satu kali takbiratul-ihram kemudiannya dilakukan lagi sehingga genap
rakaat yang dikehendaki.

Lafaz Niat Sembahyang Tarawih:


Bermaksud:
Sahaja aku sembahyang Tarawih dua rakaat ma’mum kerana Allah
Taala

4.
Rukun Sembahyang Tarawih
Rukun sembahyang sunat Tarawih ini sama sahaja dengan rukun sembahyang
yang lain juga.



SEMBAHYANG WITR

1.
Sembahyang Sunat Witr
a)
Menurut kebiasaan umum orang-orang Islam di Malaysia menunaikan
sembahyang Witr selepas sunat Tarawih ini sebanyak 3 rakaat sahaja.
Sunat Witr ini ditunaikan secara berjamaah.

b)
Salam selepas dua rakaat yang pertama.

c)
Lafaz niat sembahyang sunat Witr
i-bagi dua rakaat yang pertama:



Bermaksud:
Sahaja aku sembahyang Witr dua rakaat ma’mum kerana
Allah Ta’ala.

ii-
bagi rakaat yang akhir:


Bermaksud:
Sahaja aku sembahyang Witr satu rakaat ma’mum kerana
Allah Ta’ala.

d)
Pada malam 16 hingga akhir Ramadhan adalah sunat dibaca [doa] Qunut
pada rakaat yang akhir. Lafaz Qunut di sini sama juga dengan lafaz
Qunut semmbahyang Subuh. Dan jika tidak membaca Qunut ini adalah
disunatkan Sujud Sahwi.



KELEBIHAN PUASA DARIPADA RUJUKAN AL QURAN DAN
HADITH

"Berpuasalah, kerana puasa membawa kebaikan kepada
kamu, sekiranya kamu mengetahuinya." (surah Al Baqarah:
184)
"Berpuasalah kamu nescaya kamu menjadi orang sihat."
(Hadis)
"Tiap-tiap kebajikan yang di-kerjakan oleh manusia akan
dibalaskan 10 kali ganda hingga 700 kali ganda, kecuali
puasa dikerjakan oleh hambaKu untuk Aku, maka Aku
(Allah) akan membalaskannya." (Riwayat Abu Hurairah)
"Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraannya,
gembira ketika berbuka dan gembira ketika berjumpa
dengan TuhanNya (di hari Kiamat)." (Riwayat Abu Hurairah)
"Puasa itu menjadi perisai." (Riwayat Bukhari dan Muslim)
"Doa orang yang berpuasa tidak sekali-kali akan ditolak oleh
Allah." (Riwayat Tarmizi)
Kelebihan bulan Ramadan

Allah swt mengutamakan bulan Ramadan dari bulan-bulan
yang lain. Diberi kelebihan pada segala amal kebajikan yang
diusahakan seorang Muslim di dalamnya.
Sabda Nabi Muhammad saw di dalam sebuah hadis yang
bermaksud: "Telah datang kepada kamu bulan Ramadan,
yang penuh berkat, Allah memberi perlindungan kepada
kamu menurunkan rahmatNya, membersih-kan dosa-dosa,
mengkabulkan doa, Ia (Allah) akan memberikan perhatian
yang sungguh-sungguh kepada segala kebajikan kamu dan
para malaikat mengalu-alukan kamu; maka per-lihatkanlah
kepada segala perkara yang baik-baik. Sesungguhnya orang
yang jahat itu yang diharamkan oleh Allah daripada
mendapat rahmatNya."
Sebab-sebab bulan Ramadan Diutamakan

"Bulan Ramadan, yang diturunkan di dalamnya Al Quran
menjadi petunjuk kepada manusia." (Al Baqarah: 185)
Adanya malam Lailatul Qadar "Malam Lailatul Qadar (malam
penentuan) lebih utama daripada 1000 bulan." (Al Qadr: 3)
Puasa sepanjang bulan Ramadan "Barangsiapa yang
mengerjakan puasa di bulan Ramadan dengan penuh
keimanan kepada Allah dan benar-benar mengharapkan
keampunan, nescaya Allah akan mengampunkan dosadosanya
yang telah lalu." (Riwayat Bukhari dan Muslim)


Ibadat dalam bulan Ramadan "Barangsiapa yang membuat
satu kebajikan di bulan Ramadan akan dibalas sepuluh kali
ganda dan barang-siapa mengerjakan keburukan akan
dibalas menurut apa yang dibuatnya." (Hadis)
Membersihkan diri dengan mengeluarkan zakat fitrah
"Rasulullah saw telah mewajibkan zakat fitrah pada bulan
Ramadan sebanyak satu sa' (2.3 kg) kurma atau gandum
kepada tiap-tiap orang Islam merdeka atau hamba lelaki
atau perem-puan." (Riwayat Bukhari dan Muslim) Bulan
Ramadan bulan yang penuh dengan berkat, rahmat dan
kasih mesra antara makhluk-makhluk Allah yang hidup di
bumi Allah ini.


Soalan Lazim Puasa Dengan Jawapan Ringkas

Soalan: Seseorang yang terdengar azan Subuh ketika dia sedang bersahur,
adakah sah puasanya?

Jawapan: Sah puasanya dan hendaklah berhenti makan serta merta dan terus
buang makanan yang ada di dalam mulutnya.

Soalan: Seseorang yang mengalami keadaan air liur yang terkumpul di dalam
mulutnya kemudian ditelan, adakah batal puasanya?

Jawapan: Tidak batal puasanya kerana air liur datang dari mulut tidak datang
dari rongganya.

Soalan: Apakah hukum orang yang berpuasa yang makan dengan terlupa
kemudian teringat kembali yang dia berpuasa?

Jawapan: Sah puasanya kerana itu adalah rezeki daripada Allah. Sabda
Rasullah s.a.w yang bermaksud “Sesiapa yang makan atau minum dengan
keadaan terlupa maka jangan berbuka puasa maka sesungguhnya itu adalah rezeki
yang diberi oleh Allah s.w.t. kepadanya”.

Soalan: Adakah sah niat puasa di malam 30 Syaaban sedangkan hati
seseorang tidak berat sangka bahawa esoknya masuk Ramadhan?

Jawapan: Tidak sah niat tersebut.

Soalan: Apakah hukumnya bagi perempuan yang mengandung atau
perempuan yang menyusukan anak membatalkan puasanya?

Jawapan: Harus membatalkan puasa tersebut dengan dua sebab:

a.
Kerana keuzuran dirinya sendiri
b.
Kerana menjaga kesihatan anak
Keterangan:

a.
Kalau berbuka puasa kerana menjaga kesihatan dirinya wajib qada’ sahaja.
b.
Kalau berbuka puasa kerana mahu menjaga kesihatan anak bukan dirinya,
wajib qada’ dan fidyah sekadar 1 cupak beras untuk sehari.
c.
Kalau berbuka puasa kerana menjaga diri dan anak wajib qadha’ sahaja.


Soalan: Orang yang tidak berdaya puasa bolehkah diqadha puasa untuknya?
Jawapan: Tidak boleh diqadhakan puasa kepada orang yang masih hidup.

Soalan: Apakah hukum bersahur?
Jawapan: Hukumnya sunat.

Soalan: Adakah sah berpuasa dengan tidak berbuka bila tiba waktunya?

Jawapan: Sah puasa tapi di galakkan mempercepatkan berbuka bila tiba waktu
berbuka.

Soalan: Adakah pahala membaca Al-Quran dan bersedekah di bulan
Ramadhan berganda dari bulan-bulan yang lain?

Jawapan: Pahala membaca Al-Quran dan bersedekah di bulan Ramadhan
adalah berganda.

Soalan: Hukum puasa orang yang terkentut dalam air?
Jawapan: Puasanya sah kerana terkentut dalam air tidak membatalkan puasa.


Soalan: Apakah hukum meninggalkan puasa kerana bersalin?

Jawapan: Hukumnya wajib, jika perempuan yang bersalin itu ada darah nifas dan
wajib qadha’ pada bulan-bulan yang lain tetapi sekiranya perempuan yang bersalin
itu tiada darah nifas maka harus dia meninggalkan puasa kerana menjaga
kesihatannya dan wajib qadha’ pada bulan-bulan yang lain.



SOALAN LAZIM PUASA DENGAN JAWAPAN BERHURAIAN RINGKAS

Adakah niat untuk berpuasa itu perlu dilafazkan atau tidak. Saya
kebingungan ada yang barpendapat bahwa kalau orang itu bersahur
secara otomatik sudah merupakan niat tanpa perlu lafaz niat puasa?

Yang disyaratkan adalah niat. Apa niat itu? Niat adalah rencana yang tegas
untuk melakukan sesuatu. Nah kalau rencana sudah dianggap mantap dalam
hati, maka niat tidak perlu diucapkan. Tetapi ada orang yang sering merasa ragu
[pendapat dalam ilmu kejiwaan, ianya merupakan penyakit,yang disebut sebagai
neurosis] jika niatnya tidak diucapkan. Oleh sebab itu, dalam hal seperti ini, niat
ada baiknya dilafazkan, agar anda dapat betul-betul yakin terhadap apa yang
akan anda buat.

Dalam hal ini juga niat puasa, jika kita bangun untuk bersahur, tentu aktiviti itu
adalah faktor yang menggerak keinginan untuk puasa. Secara tak langsung ia
merupakan satu niat. Ertinya, secara tidak langsung, sahur itu merupakan salah
satu bentuk kita berniat mahu berpuasa. Jadi, sahur dapat dijadikan sebagai niat
untuk puasa.

Seseorang sedang berpuasa Ramadhan, tetapi di himpit pelbagai masalah
dan gangguan emosi sehingga benar-benar membuat perasaannya marah
sedemikian rupa dan terbawa sampai dirumah menjelang waktu magrib.
Setelah sedar Ia merasa puasanya seharian tidak berguna dan sudah
kehilangan pahala. Ia berbuka dan telah batallah puasanya. Bagaiamana
dengan hal ini ?.

Sayang orang tersebut membatalkan puasanya. Padahal, andaikata saja ia
menuruti saranan Rasulullah SAW untuk segera mengambil wudhu dan
beristighfar, tentu hal itu dapat meredakan amarahnya. Kalau kita marah-marah,
maka puasa kita tetap sah, hanya saja nilainya jadi berkurang. tetapi tetap jauh
lebih baik meneruskan berpuasa daripada membatalkannya.

Apakah kerana kita tak dapat khusyu' dalam solat lantas kita tak mahu solat?
Sedangkan solat itu wajib. Sebuah perintah untuk melaksanakan kewajiban itu
wajib dipenuhi, kalau sudah dipenuhi maka gugur sudah kewajiban itu, tetapi
soal diterima atau tidak, sempurna atau tidak, itu merupakan hak prerogatif Allah
SWT untuk menentukannya. Jadi, penuhi saja kewajiban itu semampu kita,
kemudian menyerahkannya pada Allah. Kerana orang tersebut sudah
membatalkan puasanya maka ia wajib menggantinya di hari lain dan di bulan
lain.



Alhamdulillah pada bulan ramadhan ini saya melaksanakan perintah Allah
puasa ramadhan dengan sebaiknya. Yang jadi masalah saya ialah di tempat
kerja saya dan di tempat tinggal saya terdapat segelintir teman sesama
muslim yang tidak sembahyang bahkan puasa pun tidak. Bukan setakat
mereka itu tidak puasa dan sembahyang malah menempelak pula orang
yang berpuasa dengan pelbagai dugaan. Mereka selalaunya sekufu dan
tidak segan silu makan, minum dan merokok di khalayak. Mohon panduan
bagaimana menangani kes seperti ini

Mengenai pertanyaan saudara dapat saya jelaskan bahwa itu merupakan
cabaran dan godaan bagi anda untuk tetap istiqamah menjalankan ibadah puasa
ditengah persekitaran yang tidak prihatin akan kemuliaan bulan ramadhan.

Sebagai muslim yang baik, tentu menjadi kewajiban anda melakukan amar
ma'ruf nahi munkar kepada teman anda itu, Tegurlah dengan bahasa yang
lembut dan penuh luapan nasihat. Berilah teguran dalam bentuk lontaran ingat
mengingati ia bahwa perbuatannya itu merupakan perbuatan yang tidak sihat.
Namun ingat saudaraku, hanya sampai disitulah kewajiban anda. Anda tak
berhak memaksanya, kerana anda hanya berkewajiban memberi ingat saja.
Mengenai ia mau terima atau tidak sepenuhnya itu terpulang kepadanya. Tak
lupa, do'akan-lah teman anda itu agar menyedari kekeliruannya dan dapat
menjalankan ibadah di bulan puasa ini.

Cabaran dan godaan berpuasa itu memang berat. Namun itulah indahnya
beribadah; nikmatnya berpuasa. Kita justru harus semakin terpacu untuk
mendekatkan diri pada Illahi. Semoga anda, saya dan kita semua lulus dalam
ujian ini.-Amin.

Saya berpuasa tetapi tidak dapat terlepas daripada melihat aurat wanita
kerana setiap hari dipersekitaran pejabat saya para wanitanya selalu
berpakaian singkat dan mendedah aurat. Kerana saya berada
dipersekitaran sedemikian itu secara langsung atau tidak langsung saya
hampir setiap saat melihatnya, saya berusaha untuk menghindari tapi
sukar kerana ia bersangkutan dengan pekerjaan saya yang selalu
berhubungan dengan pelanggan yang pelbagai kerenah pakaiannya,

Kalau dalam diri kita sudah ada keimanan dan ketaqwaan, maka diri kita tidak
akan terpengaruh dengan hal-hal yang demikian, kerana yang demikian itu bagi
orang-orang yang beriman merupakan ujian.

***7:26***

26. Hai anak Adam [530], sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu
pakaian untuk menutup 'auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan
pakaian takwa [531] itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah


sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu
ingat.

***29:2***

2. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:
"Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?
Dengan sabar, mendirikan solat dan dzikir maka gangguan yang demikian tidak
akan mempengaruhi diri:

***2:153***

153. Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan solat sebagai
penolongmu [99], sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
[99] Ada pula yang mengertikan: "Mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan
sabar dan solat".
***2:45***

45. Jadikanlah sabar dan solat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang
demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'.
Mendirikan solat untuk mencegah perbuatan keji dan mungkar:

***29:45***

45. Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur'an)
dan dirikanlah solat. Sesungguhnya solat itu mencegah dari (perbuatanperbuatan)
keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (dzikir)
adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah
mengetahui apa yang kamu kerjakan.
***13:28***

28. (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan
mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi
tenteram.
***58:19***

19. Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat
Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya
golongan syaitan itulah golongan yang rugi.
Dengan selalu berdzikir (ingat Allah) pada berdiri, berjalan, berbaring dan duduk
maka kita terhindar dari perbuatan keji dan mungkar. Insya Allah.



SOALAN LAZIM PUASA DENGAN JAWAPAN BERHURAIAN
TERPERINCI

Apakah hukumnya orang yang mengingkari puasa dan syarat

– syarat wajib berpuasa?
Hukum orang yang mengingkari wajibnya puasa Ramadan:.
Berdasarkan dalil daripada Al-Quran dan Hadis Sahih, puasa pada
bulan Ramadan itu adalah 'Wajib Aini' yakni wajib dilakukan oleh
setiap orang Islam yang telah sampai had umur dan berakal- tak
kira sama ada lelaki mahupun perempuan. Orang yang
mengingkari wajibnya berpuasa bulan Ramadan adalah
dihukumkan 'murtad' - jelasnya keluar daripada agama Islam.
(Na'udzu billahi min zalik). Syarat-syarat wajib puasa ada lima
perkara:

1.
Islam - orang-orang kafir tidak wajib berpuasa.
2.
Sampai umur- kanak-kanak yang belum cukup umur tidak
wajib berpuasa.
3.
Berakal (siuman) - orang yang gila tidak wajib berpuasa.
4.
Kuasa (berdaya) berpuasa -orang sakit yang merbahaya,
orang tua yang lemah dan sebagainya tidak wajib berpuasa.
5.
Bermukim -orang yang dalam pelayaran (musafir) lebih
daripada dua marhalah tidak diwajibkan berpuasa, tetapi
wajib mengqadhanya di hari yang lain.
Perhatian:

Sungguhpun kanak-kanak tidak wajib berpuasa, tetapi adalah
menjadi kewajipan kepada ibu bapa memberi didikan dan latihan
kepada anak-anak mereka untuk mengerjakan ibadah puasa
dengan berpandu sabda Nabi Muhammad s.a.w. tentang memberi
latihan menunaikan sembahyang iaitu ertinya: "Suruhlah anak-anak
kamu bersembahyang bila mereka berumur tujuh tahun dan
pukullah mereka bila berumur sepuluh tahun (kalau tidak mahu
mengerjakannya)."

Apakah hukumnya orang yang meninggalkan puasa?

Hukum-hukum meninggalkan puasa terbahagi kepada empat :

1.
Wajib qadha
2.
Wajib qadha dan wajib membayar fidyah
3.
Tidak wajib qadha
4.
Tidak wajib qadha tetapi wajib membayar fidyah


1.
Wajib qadha dikenakan ke atas orang yang meninggalkan
puasa kerana:
o
Kedatangan haidh dan nifas
o
Sakit yang membahayakan
o
Tersangat lapar dan dahaga
o
Dalam perjalanan
o
Pitam
o
Mabuk
o
Mengandung
o
Menyusukan anak [ Dan berbuka kerana bimbangkan
kesihatan diri masing-masing]
2.
Wajib qadha dan membayar fidyah dikenakan khusus
kepada :
o
Orang yang mengandung
o
Orang yang menyusukan anak [Dan berbuka kerana
bimbangkan kesihatan anak masing-masing.]
3.
Tidak wajib qadha khusus kepada orang yang meninggalkan
puasa kerana :
o
Kafir (tidak beragama Islam).
o
Kanak-kanak.
o
Gila.
4.
Tidak wajib qadha tetapi wajib membayar fidyah dikenakan
ke atas orang yang meninggalkan puasa kerana :
- Sakit yang tidak ada harapan sembuhnya. - Tua yang tidak kuasa
(daya) berpuasa.
Catatan Penting :

1.
Lewat qadha puasa : Jika lewat qadha puasa hingga datang
bulan Ramadan yang lain wajib membayar fidyah secupak
pada tiap-tiap hari puasa yang ditinggalkan, dan jika lewat 2
tahun, melewati dua kali Ramadan, wajib berfidyah
sebanyak dua cupak dan begitulah seterusnya di samping
wajib mengqadha puasa itu.
2.
Orang yang mati sebelum qadha puasa : Orang yang luput
puasa Ramadan kerana sakit atau musafir dan ia mati
sebelum mengqadhanya, tidak wajib diikuti dengan qadha
atau fidyah dan tidak berdosa. Jika seseorang itu mati
sebelum mengqada puasanya dengan ketiadaan uzur, maka
walinya hendaklah mengqadanya atau mengeluarkan fidyah
secupak pada tiap-tiap hari puasanya. Fidyah puasa : Iaitu
mengeluarkan secupak bahan makanan asasi (di negeri kita
- beras) untuk tiap-tiap hari puasa yang ditinggalkan, kepada
fakir miskin.


Apakah hukum orang yang berpuasa termakan atau terminum
pada bulan puasa ?

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan daripadla Abu Hurairah.
Bahawa Nabi s.a.w. bersabda: "Sesiapa yang makan dan minum
kerana terlupa pada bulan Ramadan, hendaklah dia
menyempurnakan puasanya. Makan minum itu adalah pemberian
Allah. Dan diriwayatkan oleh Daruqatni dengan sanad yang sahih:
"Ia dianggap rezeki daripada Allah. Allah yang memberinya minum.
Tidak perlu dia mengqadha puasanya." Di dalam lafaz yang lain
daripada Daruqatni, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Mabban dan Al-Hakim:
"Sesiapa yang makan dalam bulan Ramadan kerana terlupa, dia
tidak perlu menggantikan puasanya atau pun membayar kifarah."
Al-Hafiz Ibnu Hajar juga mengatakan sanadnya sahih. Hadis-hadis
ini dengan jelas mengatakan bahawa makan dan minum dengan
tidak sengaja tidak menjejaskan puasa. Ia bertepatan dengan
firman Allah: "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika
kami terlupa atau tersalah." (Al-Baqarah: 286) Dan telah sahih
dalam hadis yang mengatakan Allah menerima doa ini.
Sebagaimana ternyata di dalam hadis yang lain: "Sesungguhnya
Allah mengampuni hamba-Nya yang tidak sengaja melakukan
kesalahan, yang terlupa atau yang dipaksa." Jadi, sesiapa yang
termakan atau terminum dengan terlupa hendaklah dia
menyempurnakan puasanya. Tidak harus baginya berbuka.

Apakah hukumnya orang yang berpuasa melakukan dosa
mengumpat, bercakap bohong dan melihat wanita ajnabi
dengan syahwat. Adakah sah puasanya ?

Puasa yang berfaedah yang diterima oleh Allah ialah puasa yang
mendidik dirinya, mengukuhkan perasaan untuk melakukan
kebaikan dan membuahkan sifat taqwa sebagaimana yang disebut
di dalam alQuran: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan ke
atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan ke atas orang-orang
sebelum kamu agar kamu bertaqwa." Orang yang berpuasa wajib
menjaga kata-kata atau tingkah lakunya daripada perkara-perkara
yang boleh merosakkan puasanya agar puasanya itu tidaklah
hanya tinggal lapar, dahaga dan menahan diri sahaja, sedangkan
pahalanya tiada. Rasulullah s.a.w. bersabda: "Puasa itu adalah
perisai. Apabila seseorang di kalangan kamu berpuasa, dia tidak
boleh (bercakap kotor) dan melakukan maksiat. Apabila seseorang
mencacinya atau ingin bergaduh dengannya, handaklah dia
berkata: Aku sedang berpuasa." (Bukhari dan Muslim) "Tuan orang
yang berpuasa itu ialah lapar. Tuan orang yang bangun ialah
berjaga." (Diriwayatkan oleh Nasai Ibnu Majah dan Al-Hakim
Menurutnya, hadis ini sahih mengikut syarat lmam Bukhari). Sabda



Rasulullah lagi: "Sesiapa yang tidak meninggalkan tutur kata yang
dusta, Allah tidak menerima hajatnya (puasanya) walaupun dia
meninggalkan makan dan minum." (Bukhari, Ahmad dan Ashabus
Sunan). Menurut lbnu Arabi, yang dimaksudkan dengan hadis ini
ialah tidak diberikan pahala puasanya. Maknanya, pahala puasa
tidak layak diberi kepada pendusta. lbnu Hazim berpendapat
perkara-perkara ini membatalkan puasa sebagaimana makan dan
minum dengan sengaja. Hadis ini juga diriwayatkan oleh
sebahagian sahabat dan tabiin. Pada pendapat kami, yakni jika
kami tidak berpendapat seperti lbnu Hazim, dosa-dosa ini akan
menghilangkan pahala puasa dan merosakkan tujuan syarak. Oleh
kerana itulah umat terdahulu yang soleh mengambil berat masalah
puasa ini daripada dicemari perkara yang melalaikan dan haram,
sebagaimana mereka menjaganya daripada makan dan minum.
Saidina Umar berkata bahawa puasa itu bukanlah menahan diri
daripada makan dan minum sahaja tetapi mesti juga
menghindarkan diri daripada berdusta serta perkara-perkara yang
batil dan melalaikan. Saidina Ali juga meriwayatkan hal yang sama.
Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Jabir bermaksud: "Apabila
engkau berpuasa, pendengaran, penglihatan dan lidahmu juga
hendaklah berpuasa daripada berkata dusta dan dosa. Jadikanlah
puasamu tenang, dan jangan jadikan hari engkau berpuasa sama
dengan hari engkau tidak berpuasa." Abu Zar berkata kepada Talik
bin Qais: "Apabila engkau berpuasa, hendaklah engkau menjaga
puasa engkau sekadar yang mampu." Talik tidak akan keluar
rumah ketika dia berpuasa melainkan untuk mengerjakan
sembahyang. Bagi Abu Hurairah dan sahabat-sahabatnya, apabila
mereka berpuasa, mereka sentiasa berada di dalam masjid.
Mereka mengatakan: hendak membersihkan puasa kami..." Dan
daripada Maimun bin Mahran: "Sehina-hina puasa ialah puasa
yang hanya menahan makan dan minum sahaja..." Tidak kira
perkara apa yang dilakukan, puasa itu tetap ada kesan dan
ganjarannya. Bagi orang yang mengumpat dan bercakap bohong,
Allahlah yang akan membalasnya, sebagaimana firman-Nya: "Dan
segala sesuatu di sisi-Nya ada ukurannya." (Ar-Ra'd: 8) Tiap-tiap
amalan itu ada kiraan dan timbangannya "Tuhan kami tidak akan
tersalah dan tidak (pula) terlupa." (Toha: 52) Diriwayatkan oleh
Imam Ahmad dan Tirmizi: "Daripada Aisyah r.a., bahawa ada
seorang lelaki duduk di hadapan Rasulullah. Lelaki itu bertanya
kepada Rasulullah: 'Wahai Rasulullah, saya mempunyai beberapa
orang hamba yang berbohong dan tidak mematuhi saya. Saya
memukul mereka dan mengeji mereka. Bagaimanakah keadaan
saya di akhirat kelak?' Rasulullah menjawab: 'Semuanya akan
dikira berdasarkan pengkhiantan, keingkaran dan penipuan mereka
kepada engkau, juga hukuman yang engkau laksanakan ke atas
mereka. Andainya hukuman engkau ke atas mereka itu kurang



daripada dosa yang mereka lakukan, ia adalah lebih baik bagi
engkau, tetapi jika engkau membalasnya sama dengan dosa yang
dilakukan, itu adalah memadai engkau tidak berdosa dan mereka
juga tidak berdosa. Andainya engkau menghukum mereka melebihi
dosa yang mereka lakukan, engkau akan mendapat balasan
daripadanya.' Lelaki itu menangis dan berteriak di hadapan
Rasulullah. Rasulullah bersabda: 'Tidakkah dia membaca al-
Quran?"' Firman Allah: "Kami akan memasang timbangan yang
tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang
sedikit pun. Dan jika (amalan itu hanya seberat biji sawi pun, pasti
Kami mendatangkan (pahalanya). Dan cukuplah Kami menjadi
orang-orang yang membuat perhitungan. (Al-Anbiya': 47) "Lelaki itu
berkata kepada Rasulullah: 'Aku tidak dapat sesuatu kebaikan pun
daripada mereka (yakni hamba-hambanya). Aku naik saksi dengan
engkau bahawa aku membebaskan mereka semuanya."'

Adakah diterima puasa orang yang meninggalkan
sembahyang? Adakah sesuatu ibadat itu ada kaitannya
dengan ibadat yang lain sehinggakan jika ditinggal
setengahnya, tidak diterima ibadat yang lain?

Orang Islam dituntut melakukan semua ibadat: mendirikan
sembahyang, membayar zakat, berpuasa pada bulan Ramadan
dan mengerjakan haji jika berkemampuan. Sesiapa yang
meninggalkan salah satu ibadat ini tanpa keuzuran, dia telah
melampaui batas terhadap Allah. Ulama Islam telah mengeluarkan
berbagai-bagai pendapat, setengahnya berpendapat, kufur jika
meninggalkan salah satu daripada ibadat ini. Ada pula yang
mengkafirkan orang yang meninggalkan sembahyang dan enggan
membayar zakat. Setengahnya berpendapat hanya orang yang
meninggalkan sembahyang saja menjadi kafir kerana kedudukan
sembahyang yang tinggi di dalam lslam. Sebuah hadis yang
diriwayatkan oleh Muslim menjelaskan: "Di antara hamba dan
kekufuran itu ialah meninggalkan sembahyang." Ulama yang
mengkafirkan orang yang meninggalkan sembahyang dengan
sengaja, dengan sendirinya berpendapat bahawa puasa orang itu
juga tidak diterima, kerana orang kafir itu sendiri amalannya tidak
diterima. Sesetengah ulama masih lagi mengiktiraf keimanan dan
keislamannya selama mana orang itu masih mempercayai
kebenaran Allah dan Rasul-Nya serta tidak membangkang atau
mencela apa yang dibawa oleh Rasulullah. Mereka menyifatkan
orang seperti ini sebagai fasik. Mudah-mudahan pendapat ini lebih
benar dan adil. Wallahualam. Jika dia mengurangkan sebahagian
daripada ibadatnya yang wajib kerana malas atau mengikut hawa
nafsu, tanpa mengingkari atau mempermain-mainkannya, dan dia
melakukan juga ibadat-ibadat yang lain, dia dikira muslim yang



tidak sempurna, imannya lemah dan jika berterusan
meninggalkannya dikhuatiri imannya akan jatuh. Walau
bagaimanapun Allah tidak mensia-siakan amalan kebaikannya.
Pahala terhadap apa yang telah dilakukannya tetap ada,
sebaliknya dia berdosa di atas keterlanjurannya. Allah berfirman:
"Dan segala (urusan) yang kecil mahupun yang besar adalah
tertulis" (Al-Qamar 53) Firman-Nya lagi: "Barangsiapa yang
mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, nescaya dia akan
melihat pembalasannya. Dan barangsiapa yang mengerjakan
kejahatan seberat zarah pun, nescaya dia akan menerima
(balasannya) pula." (Al-Zalzalah: 7-8)

Hadas Besar / Terkeluar Mani Semasa Berpuasa

Apakah hukumnya jika seseorang itu , setelah bangun sahur di
bulan puasa dan menunaikan solat subuh tidur untuk satu
jam, bila bangun mendapati dirinya berhadas besar
disebabkan mimpi? Adakah batal puasanya untuk hari itu atau
bagaimana?

Untuk makluman, hadas besar yang disebabkan mimpi tidak
membatalkan puasa, sama ada ianya berlaku sebelum atau
selepas waktu sahur. Orang yang berhadas tersebut boleh
meneruskan puasanya.

Saya telah bermimpi sehingga mengeluarkan mani pada siang
hari bulan Ramadan, kemudian saya mandi junub. Adakah
mandi junub tersebut membatalkan puasa saya?

Bermimpi tidak membatalkan puasa. Ia bukan urusan manusia.
Lagipun dia tidak bermaksud untuk bermimpi. Oleh itu dia tidak
perlu berbuka. Keluarnya mani ketika bermimpi tidak membatalkan
puasa, begitu juga dengan mandi junub, kerana mandi junub itu
bertujuan untuk membersihkan diri, sebagaimana yang diwajibkan
oleh Allah ke atas orang Islam. Malahan, sekiranya termasuk air ke
dalam telinga atau tertelan air ketika berkumur-kumur (sewaktu
mengambil wuduk atau mandi), puasa tidak terbatal kerana ia dikira
tidak sengaja. Firman Allah: "Dan tidak ada dosa ke atasmu
terhadap apa yang kamu tersilap, tetapi (yang ada dosa ialah) apa
yang disengajakan oleh hatimu."(Al-Ahzab: 5) Sabda Nabi s.a.w.:
"Sesungguhnya Allah mengampuni dosaku dan dosa umatku yang
melakukan kesilapan atau terlupa." (Tabarani)



Haidh

Dalil ayat Quran yang mengatakan bahawa wanita apabila
haidh tidak boleh berpuasa dan bersembahyang

Dalil alQur'an:

ü Larangan solat bagi wanita haidh: an-Nisa':43
ü Larangan puasa bagi wanita haidh: tiada dalil alQur'an; ia

dilarang oleh hadis muttafaq alaih dari Abi Sa'id alKhudri

Bolehkah kami memakan ubat untuk melewatkan haid pada
bulan Ramadhan?

Ulama Islam telah bersepakat mengatakan bahawa wanita-wanita
Islam yang berhaidh tidak wajib berpuasa pada bulan Ramadan
tetapi wajib mengqadhakannya pada hari yang lain. Allah tidak
mahu memberatkan hamba-Nya. Wanita yang didatangi haidh letih
badannya dan tidak tenteram perasaannya. Kalau dia berpuasa
pun, puasanya tidak akan diterima dan tidak akan diberi pahala.
Inilah amalan yang dilakukan oleh Ummul Mukminin dan wanita
muslimat pada zaman Rasulullah. Tidak berdosa wanita yang
datang haidh membuka puasanya dan hendaklah
menggantikannya pada hari-hari yang lain sebanyak mana puasa
yang ditinggalkan itu. Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah

r.a. berbunyi: "Kami diperintahkan menggantikan puasa dan kami
tidak diperintahkan menggantikan sembahyang." (Bukhari) Pada
pendapat saya sebaik-baiknya wanita itu mengikut sifat kejadian
semula jadinya. Haidh adalah sesuatu yang tabii dan tidak dapat
dielakkan. Ia datang daripada Allah. Sekiranya wanita itu hendak
memakan ubat untuk melewatkan haid agar ia tidak datang di
dalam bulan Ramadan, hukumnya tidak mengapa dengan syarat
ubat itu tidak memudaratkan dirinya. Mereka boleh meminta
nasihat orang-orang alim dan pakar, atau nasihat doktor mengenai
ubat itu. Menelan pil tersebut akan membolehkannya berpuasa
genap sebulan pada bulan puasa dan akan diterima Allah, insya-
Allah.
Apakah hukum menggantikan puasa kerana haidh pada bulan
Syaaban?

Tidak salah untuk menggantikan puasa pada bulan Syaaban atau
bulan-bulan lain. Bahkan pernah diriwayatkan bahawa Aisyah r.a.
kadang kala menggantikan puasanya pada bulan Syaaban
sebelum datang bulan Ramadan. Untuk menenangkan hati kaum
muslimat yang telah menggantikan puasanya pada bulan Syaaban,



yakinlah bahawa puasa itu diterima dan diberi pahala.
Sesungguhnya Allah menerima amalan orang-orang muttaqin.

Kali pertama saya didatangi haid, keluar sesuatu yang
berwarna putih seperti percikan air. Saya tidak tahu air apakah
ini. Adakah sah puasa dan sembahyang saya?

Lendir jenis ini biasa keluar dari kemaluan seorang perempuan
terutama gadis. Hanya keluar darah sahaja yang mengharamkan
puasa, sembahyang dan lain-lain lagi. Darah haidh boleh dikenali
kerana darahnya yang berwarna merah pekat. Andainya lendir
yang keluar bukan darah seperti lendir atau cecair, itu adalah
perkara yang biasa berlaku pada wanita. Tidak ada masalah dalam
hal ini dan tidak perlu dikhuatiri tentangnya. Dia hendaklah
sembahyang, berpuasa dan menunaikan ibadat-ibadat lain seperti
biasa. Allah menerima puasa, sembahyang dan ibadat-ibadatnya
yang lain.

Fidyah Puasa

Adakah bersahur merupakan salah satu daripada syarat-syarat
sah puasa?

Hukum bersahur itu adalah sunat sahaja dan ia bukannya syarat
sah puasa. Ia merupakan amalan Nabi s.a.w., oleh itu kita
digalakkan mengerjakannya. Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Bersahurlah kamu kerana pada sahur itu ada keberkatan."
(Mutafaq alaih) Kita disunatkan bersahur dan melewatkan
waktunya. Bersahur juga dapat menguatkan tubuh badan,
meringankan kepayahan berpuasa kerana kurangnya masa
menahan lapar dan dahaga. Agama Islam sentiasa memberi
kemudahan dan galakan agar manusia suka melakukan amal
ibadat kepada Allah. Sunat menyegerakan waktu berbuka dan
melewat-lewatkan waktu bersahur. Orang Islam digalakkan
bersahur walaupun sedikit. Memadailah dengan sebiji buah kurma
atau seteguk air. Amalan ini adalah amalan Rasulullah. Di samping
itu juga ia dapat mendidik jiwa. Jika kita bangun untuk bersahur kita
akan beringat-ingat dan berjaga jaga sebelum fajar. Waktu itu
jugalah Allah akan membesar-besarkan hamba-Nya, menerima
permintaan hamba- Nya, bersedia mengampuni dosa hamba-Nya
dan menerima amalan yang salih. Bayangkanlah betapa besarnya
faedah yang akan diperoleh berbanding dengan orang yang hanya
tidur dan tidak bersahur pada waktu itu.



Memasukkan Air Ke Dalam Rongga

Ada yang mengatakan berkumur-kumur dan memasukkan air
ke dalam hidung menjejaskan puasa seseorang , sejauh
manakah kebenaran pendapat ini?

Berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung ketika
berwuduk adalah sunat mengikut imam-imam yang tiga mazhab
iaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Syafii. Menurut
pendapat Imam Ahmad, hukumnya adalah wajib dan ia dikira
sebagai sebahagian daripada kewajipan membasuh muka. Dalam
masalah ini, tidak kira sama ada ia sunat atau wajib, tidak harus
meninggalkannya walaupun dia berpuasa atau tidak. Orang Islam
digalakkan melakukan amalan yang sama dengan keadaan dia
tidak berpuasa. Ada sebuah hadis yang berbunyi: "Apabila kamu
memasukkan air ke dalam hidung ketika mengambil wuduk, dan air
itu termasuk ke dalam kerongkong, kamu masih lagi berpuasa
(tidak batal puasanya). " Bagi orang yang berpuasa yang
berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung ketika
berwuduk, dan air itu termasuk ke dalam kerongkong tanpa
sengaja dan tidak melampau, puasanya tetap sah. Samalah
keadaannya jika dimasuki debu jalanan, debu tepung atau binatang
yang terbang termasuk masuk ke dalam kerongkong. Semua ini
dimaafkan kerana tidak sengaja. Walaupun sesetengah imam tidak
bersetuju dalam masalah ini. Berkumur-kumur tidak kerana
mengambil wuduk juga tidak membatalkan puasa, selama mana air
itu tidak sampai ke dalam perut.

Qadha Puasa

Bolehkah seseorang yang meninggalkan puasa Ramadhan
menggantikannya di dalam bulan Syaaban ?

Seseorang muslim boleh menggantikan puasa Ramadhan yang
ditinggalkannya apabila dia mampu melakukannya dan ada masa
yang terluang sepanjang bulan sebelum datangnya bulan
Ramadan yang berikutnya. Ini bermakna tiap-tiap orang Islam ada
tempoh sebelas bulan untuk menggantikan puasanya, sama ada
dia meninggalkan puasanya kerana sakit, musafir, datang haidh
atau pun keuzuran-keuzuran lain. Inilah antara kemudahan yang
diberikan syarak untuk menggantikan puasanya. Jika dia
berkemampuan, eloklah dia menggantikannya dengan segera iaitu
di dalam bulan Syawal (selepas bulan Ramadan) atau selepas
Syawal. Tidak syak lagi bahawa segera menggantikannya adalah
lebih afdal. Kita digalakkan bersegera melakukan kebaikan,
sebagaimana firman Allah: "Bersegeralah kamu melakukan



kebaikan." (Al-Baqarah: 148) Manusia tidak tahu bilakah ajalnya
akan sampai. Oleh itu dia hendaklah lebih berhati-hati. Menunaikan
tanggungjawab dan menggantikan apa yang terluput dapat
menjaminnya di akhirat. Andainya telah masuk bulan Syaaban dan
dia masih lagi belum menggantikan puasanya, dia hendaklah
menggantikannya di dalam bulan Syaaban tersebut kerana bulan
itulah bulan yang terakhir untuk dia menggantikan puasanya.
Amalan ini telah dilakukan oleh Saidatina Aisyah r.a. Beliau tidak
sempat menggantikan puasanya pada bulan yang lain lalu
menggantikannya pada bulan Syaaban. Ini tidak berdosa. Jika
terdapat kesamaran pendapat daripada orang ramai, pendapat ini
tidak ada asas syarak, kerana puasa yang ditinggalkan di dalam
bulan Ramadhan boleh diganti pada semua bulan. Akan tetapi, jika
seseorang itu mula sakit pada bulan Ramadhan, sehinggalah
datang Ramadhan yang berikutnya, dia masih lagi sakit, dia tidak
mampu untuk mengqadhanya kerana kepayahan dan kesusahan.
Dalam hal ini, puasa yang tidak sempat diqadha itu dikira sebagai
hutang tertangguh dan di bawa ke bulan Ramadhan yang
berikutnya, sehinggalah dia mampu dan kesihatannya mengizinkan
dia menggantikan puasanya itu. Ia tidak dikira berdosa. Firman
Allah:

"Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki
kesukaran bagimu " (Al-Baqarah: 185)

Adakah niat puasa sunat 6 hari bulan Syawal boleh disekalikan
dengan puasa Qadha?

Niat puasa enam tidak boleh disekalikan dengan puasa qadha'
Imam Syafi'iy (al Umm) berpendapat dalam mensyarahkan bab
`Innamal a'malu binniat (setiap amalan dgn niat) hendaklah
dibezakan ibadah puasa ramadhan, puasa nazar, puasa kafarat,
puasa qadha' dan puasa tatawwu' (sunat2). Imam Jalaluddin as
Syuyuti (al Isybah) juga berpendapat demikian hendaklah
diasingkan puasa Ramadhan, atau nazar atau puasa sunnat.

Bolehkah puasa qadha digabungkan sekali dengan puasa
sunat?

Memandangkan terdapat beberapa masalah susulan yg timbul
saya telah membuat kajian yg lebih terperinci dalam masalah ini
dan merumuskan bahawa persoalan puasa qadha (puasa hutang)
dan puasa sunnat boleh digabungkan sekali; ia termasuk isu
khilafiah (yg diperselisihkan para fuqaha') kerana nas hadis dalam
masalah ini tidak jelas. Pandangan pertama: menggunakan
perbahasan Qawaid feqah (Bahawa setiap amalan adalah dengan



apa yg dia niatkan) tidak membenarkan digabungkan dua ibadah :
wajib dan sunat digabungkan sekali ; dalam hal ini puasa qadha'
mesti dibuat dahulu kemudian baru diikuti dgn puasa sunat seperti
puasa syawal. Contohnya jika seorang wanita ada 10 hari puasa
qadha' Ramadhan. Apabila tiba syawal dia dikehendaki
menyempurnakan puasa qadha' dahulu sebelum dibolehkan
berpuasa sunat 6 hari syawal; dia tidak boleh berpuasa dibulan
syawal dengan mengggabungkan dua niat dalam satu puasa (yakni
puasa qadha' dan puasa sunat). Pandangan kedua: membolehkan
puasa sunat dan qadha' digabungkan dalam satu. Dr Wahbah
azZuhaili (Fiqh Islami wa'adillatuh) menjelaskan: seseorang yang
berpuasa qadha' di bulan syawal beroleh double bonus atau triple
bonus yakni dia boleh pahala puasa qadha', juga pahala puasa
sunat syawal sekaligus dan jika dia berpuasa pada hari
isnin/khamis; dia juga mendapat pahala sunat isnin khamis. Ini juga
pandangan Imam Nawawi dan Ibn Hazm (al Muhalla): menurut Ibn
Hazmin, nas yg menegah dari RasuluLlah saw tidak ada apabila
baginda menyuruh kita berpuasa enam supaya kita
menyempurnakan puasa qadha' terlebih dahulu. Imam Nawawi
menjelaskan, antara amalan Aisyah RA ialah beliau tidak
melakukan puasa qadha' pada bulan Syawal, malah
menyempurnakan puasa sunat syawal sahaja dan menghabiskan
puasa qadha'nya di bulan-bulan lain. Ini juga satu cara. Jadi
menjawab soalan susulan di atas, apakah boleh kita puasa qadha'
dan puasa sunat syawal sekaligus; Jawapannya: boleh; jika
menggunakan kaedah Ibn Hazm dan Wahbah Zuhaili; kita berniat
puasa qadha' dlm bulan syawal dan sekaligus mendapat double
bonus; dan jika puasa itu jatuh pada Isnin/khamis; layak mendapat
triple bonus secara otomatik. Maka pandangan saya sebelum ini
dimansuhkan dengan hasil penemuan terbaru saya dalam bab
ini..dan berpuasalah dibulan syawal dan rebutlah pahala berganda
atau berganda tiga.

Orang Yang Diharuskan Berpuasa

Doktor telah melarang saya berpuasa. Bolehkan saya
bersedekah untuk menggantikan puasa saya. Bolehkan saya
bersedekah dengan duit kepada orang miskin dan yang
berhajat untuk menggantikan puasa saya?

Ulama bersepakat mengharuskan orang sakit berbuka puasa.

Firman Allah: "(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan
Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-
Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan
mengenai petunjuk itu dan (menjadi) pembeza (antara yang hak
dan yang batil). Kerana itu barangsiapa di antara kamu hadir



(berada di negeri tempat tinggalnya), maka hendaklah dia
berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam
perjalanan (lalu dia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa),
sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.
Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan Dia tidak
menghendaki kesukaran bagimu." (Al-Baqarah: 185) Terdapat nas
dan ijmak yang mengharuskan berbuka, tetapi apakah jenis
penyakit yang diharuskan berbuka. Sakit yang diharuskan berbuka
ialah penyakit yang lebih memudaratkan lagi jika berpuasa atau
melambatkan tempoh sembuhnya, atau akan menempuh bahaya
dan kesusahan sehinggakan tidak boleh bekerja mencari rezeki
untuk kehidupannya. Ada yang mengatakan mengikut Imam
Ahmad, iaitu ketika beliau ditanya: "Bilakah orang sakit boleh
berbuka" Jawabnya: "Apabila dia tidak mampu (berkuasa)." Lalu
ditanya lagi: "Adakah seperti demam panas?" Jawabnya: "Manamana
sakit yang lebih teruk daripada demam." Penyakit itu ada
bermacam-macam. Ada yang tidak memberi kesan kepada pesakit,
seperti sakit geraham, luka jari-jari, bisul kecil dan seumpamanya.
Ada juga puasa yang boleh menyembuhkan penyakit-penyakit di
dalam perut, seperti sakit perut kerana terlalu kenyang, cirit birit
dan lain-lain. Tidak harus berbuka disebabkan penyakit-penyakit
ini, kerana puasa itu sendiri memberi manfaat kepada tuannya dan
tidak memudaratkannya. Berbuka hanya harus jika puasa itu
dikhuatiri memudaratkan dirinya, atau jika berpuasa, seseorang
yang sihat akan sakit. Salah satu daripada cara untuk mengetahui
penyakit tersebut ialah melalui pemeriksaan peribadi, misalnya
pengesahan daripada doktor muslim yang dipercayai ilmu
perubatannya dan amanah dalam agamanya. Andainya doktor
mengesahkan bahawa puasa boleh memudaratkan dirinya,
haruslah dia berbuka. Jika dia terus juga berpuasa, dia telah
melakukan perkara yang dibenci agama kerana memudaratkan
dirinya sendiri. Berbuka adalah kemudahan daripada Allah
walaupun puasanya itu sah. Jika dia berpuasa juga, dia telah
melakukan perkara yang sebenarnya telah diberi kelonggaran oleh
syarak. Sesungguhnya Allah tidak menyusahkan hamba-Nya.

Firman Allah: "Janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya
Allah amat mengasihani kamu "(An-Nisa': 29) Masalah yang masih
belum dijelaskan lagi ialah adakah harus bersedekah untuk
menggantikan puasanya yang ditinggalkan kerana sakit? Pada
pendapat kami, sakit itu terbahagi kepada dua: Pertama, sakit
sementara yang ada harapan sembuh. Hukumnya tidak harus
membayar fidyah atau bersedekah. Ia wajib diqada. Firman Allah:
"Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang
ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain." (Al-Baqarah: 184)

Jika dia meninggalkan puasanya sebulan, wajib digantikannya
sebulan. Jika sehari, wajib diganti sehari, begitulah seterusnya.



Bolehlah diganti puasanya ketika sihat dan ada masa yang
terluang. Kedua, sakit yang lama dan tidak ada harapan sembuh.
Hukumnya seperti hukum ke atas lelaki dan wanita tua. Penyakit ini
hendaklah disahkan oleh doktor yang pakar atau melalui
pemeriksaan. Ia dikenakan fidyah. Mengikut pendapat sesetengah
imam seperti Abu Hanifah, harus kita membayar fidyah dengan duit
kepada fakir miskin dan orang-orang yang memerlukannya.

Berapakah jarak yang diharuskan berbuka bagi Musafir ?

Orang yang bermusafir diharuskan berbuka sebagaimana firman
Allah: "Dan barangsiapa sakit di dalam perjalanan, lalu dia berbuka,
maka wajiblah baginya berpuasa sebanyak hari yang tinggalkannya
itu pada hari-hari yang lain." (Al-Baqarah: 184) Para fuqaha tidak
bersependapat dalam masalah menentukan kadar jarak perjalanan.
Ramai ulama bersetuju bahawa kadarnya lebih daripada 81
kilometer. Jarak ini adalah jarak yang diharuskan sembahyang
qasar. Untuk mengharuskan berbuka, mengikut kebanyakan
mazhab jaraknya lebih kurang 84 kilometer. Tidak ada hadis yang
menerangkan kadar jarak ini, juga tiada pendapat sahabat
tentangnya. Tidak ada sukatan meter dan kilometer; kedua-dua
sukatan ini adalah sukatan yang tepat. Sesetengah ulama tidak
mensyaratkan jarak yang diharuskan berbuka. Mereka
berpendapat bagi tiap-tiap perjalanan yang dianggap musafir,
jaraknya dikira jarak musafir yang mengharuskan berbuka dan
sembahyang qasar... Inilah yang terdapat di dalam al-Quran dan
hadis. Dia diberi pilihan, sama ada meneruskan puasanya atau
berbuka. Sahabat Rasulullah yang bermusafir bersama-sama
baginda telah berkata: "Sebahagian daripada kami berpuasa dan
yang lainnya berbuka. Orang yang tidak berpuasa tidak
mempelawa air kepada orang yang berpuasa dan begitulah
sebaliknya." Akan tetapi musafir yang menghadapi kesusahan dan
penderitaan dalam perjalanannya makruh berpuasa, dan ada
kalanya boleh menjadi haram hukumnya. Ini berdasarkan hadis
Nabi s.a.w. tentang lelaki yang berpuasa sedangkan perjalanannya
sentiasa dibayangi oleh kesusahan dan penderitaan yang teruk.

Nabi bertanya sahabat tentang lelaki itu, mereka menjawab: "Dia
berpuasa." Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tiada kebajikan berpuasa
dalam musafir." (Bukhari) Ini bagi orang yang sangat susah dan
menempuh penderitaan ketika berpuasa. Sesiapa yang tidak ada
masalah untuk berpuasa, iaitu tidak ada perkara yang
menyusahkannya, dia diberi pilihan sama ada untuk berpuasa atau
tidak. Akan tetapi yang manakah lebih baik di antara keduaduanya?
Ulamak tidak bersependapat dalam masalah ini.
Setengahnya mengatakan berpuasa lebih baik dan setengahnya
pula berpendapat berbuka lebih baik. Umar bin Abdul Aziz berkata:



"Yang lebih mudah adalah yang lebih baik." Sesetengah orang
berpendapat berpuasa lebih mudah kerana dapat berpuasa
bersama-sama orang yang berpuasa agar tidak perlu
menggantikan puasa ketika mana orang lain tidak berpuasa.
Dengan ini kami katakan: Berpuasalah. Ada juga yang berpendapat
bahawa berbuka lebih mudah pada bulan Ramadan. Dia akan
dapat melakukan beberapa perkara, menunaikan hajatnya dan
dapat bergerak dengan mudah untuk menunaikan apa yang
disyarakkan dan diharuskan Allah kepadanya. Oleh itu kami
katakan: Berbukalah dan gantilah puasa pada hari yang lain. Mana
yang lebih menyenangkannya adalah Iebih baik. Diriwayatkan oleh
Abu Daud daripada Hamzah Ibnu Amir Al-Aslami yang
mengatakan: "Aku berkata kepada Rasulullah: 'Saya mempunyai
binatang tunggangan dan saya selalu menggunakannya untuk
bermusafir. Saya sering juga bermusafir dalam bulan Ramadan
tetapi saya mampu berpuasa. Saya seorang pemuda. Saya lebih
mudah berpuasa daripada berbuka, dan kalau saya berbuka, itu
akan menjadi hutang bagi saya. Bolehkah saya berpuasa ya
Rasulullah? Atau saya berbuka? Yang mana lebih besar
pahalanya?' Rasulullah menjawab: "Pilihlah yang mana satu
engkau suka wahai Hamzah."' Maksudnya, pilihlah mana yang
lebih memudahkan. Hadis lain diriwayatkan oleh An-Nasai,
katanya: "Saya mampu berpuasa, adakah dikira berdosa?" Jawab
Rasulullah: "Berbuka adalah untuk kemudahan engkau. Sesiapa
yang berbuka, itu adalah baik baginya. Sesiapa yang hendak terus
berpuasa, tidak berdosa baginya." Inilah yang disyarakkan Allah
kepada orang musafir. Tidak ada syarat untuk berbuka ketika
bermusafir. Tidak kira sama ada menghadapi kesulitan atau tidak
kerana hukum musafir itu sahaja membolehkan berbuka. Allah
tidak mensyaratkan kesulitan yang dihadapi pada musafir itu. Jika
Allah mengenakan syarat kesulitan itu, nescaya ramai orang yang
akan berbalah dalam masalah ini. Bagi sesiapa yang hendak
berpuasa, dia boleh meneruskan puasanya walaupun itu akan
menyusahkan dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah tidak mahu
memberatkan hambaNya. Oleh itu Allah mengenakan syarat
hukum berbuka ketika musafir itu sendiri, walaupun musafirnya itu.
dengan menaiki kapal terbang, keretapi atau kereta. Yang menjadi
permasalahannya ialah dia dikira berhutang iaitu wajib
menggantikan puasanya pada hari-hari yang lain. Maksudnya, hari
yang ditinggalkannya itu menjadi hutang bertangguh yang wajib
dibayar pada masa yang lain. Sebab itu dia diberi pilihan sama ada
meneruskan puasanya atau berbuka walaupun tidak menghadapi
sebarang kesusahan ketika bermusafir. Mengikut pengalaman
orang-orang yang bermusafir, mereka akan menempah kesusahan,
sama ada musafir itu dengan menaiki kapal terbang atau
menunggang binatang. Ini kerana, musafirnya itu bermaksud



perjalanan yang jauh dari tempat tinggal dan keluarga, mengalami
rasa bersendirian, tidak tenang dan tidak tetap tempat tinggal. Allah
berfirman: "Allah menghendaki bagimu kemudahan dan Allah tidak
menghendaki bagimu kesusahan." (Al-Baqarah: 185)

Bilakah kanak-kanak lelaki dan perempuan boleh berpuasa?
Adakah had umur tertentu yang digariskan oleh syarak ?

Sebuah hadis Nabi s.a.w. berbunyi: "Diangkat pena itu kerana tiga
perkara: Seorang kanak-kanak kecil sehingga dia dewasa, orang
yang sedang tidur sehingga terjaga dan orang gila sehingga dia
normal kembali (Imam Ahmad dan Abu Daud) Makna diangkat
pena itu ialah mereka tidak ditaklifkan atau dipertanggungjawabkan
untuk menunaikan sebarang ibadat. Agama Islam menjaga sifat
semula jadi manusia. Kanak-kanak harus dilatih sejak kecil lagi
supaya mahir melakukan ibadat dan taat kepada Allah. Rasulullah
bersabda: "Suruhlah anak-anakmu mengerjakan sembahyang
ketika umur mereka tujuh tahun dan pukullah mereka jika mereka
enggan melakukannya ketika umur mereka sepuluh tahun." (Imam
Ahmad dan Abu Daud) Puasa juga dikira ibadat dan kewajipan
seperti sembahyang. Kita wajib melatih anak-anak menunaikan
ibadat ini. Tahap umur berapakah latihan ini mesti dilakukan? Tidak
semestinya semasa umur kanak-kanak itu tujuh tahun kerana
puasa lebih susah daripada sembahyang. Terpulanglah kepada
kemampuan kanak-kanak tersebut. Jika bapa atau penjaganya
mendapati kanak-kanak itu sudah mampu berpuasa, bolehlah dia
melatih anaknya berpuasa beberapa hari pada setiap bulan,
setahun demi setahun. Misalnya dalam setahun dia melatihnya
berpuasa sebanyak tiga hari, di tahun yang lain selama seminggu,
seterusnya dua minggu dan sehingga sebulan penuh. Apabila dia
telah baligh, dan ditaklifkan berpuasa, dia tidak lagi susah untuk
mengerjakan puasa kerana sudah biasa dan mahir sebelum ini.
Inilah cara Islam melatih kanak-kanak sejak dari kecil lagi dengan
adab-adab Islam dan kewajipan-kewajipannya. Seorang penyair
berkata, maksudnya: Adab itu bermanfaat semasa kecil ia tidak
memberi faedah lagi ketika telah dewasa, dahan yang lembut
mudah teguh bila dilentur dan akan menjadi keras (tidak lembut)
bila ia telah menjadi kayu. Ibu bapa dan penjaga hendaklah
membiasakan anak-anak mereka, sama ada lelaki atau perempuan
berpuasa dan sembahyang. Sembahyang diajar ketika umur
mereka tujuh tahun, dan jika enggan bersembahyang pada umur
sepuluh tahun mereka hendaklah dipukul. Puasa pula dilatih ketika
mereka mampu melakukannya walaupun umur melebihi tujuh
tahun. Penjaga seperti ayahnya boleh menyuruhnya berpuasa.



Apakah Hukumnya berbuka puasa bagi orang tua yang uzur,
wanita yang hamil dan yang menyusukan anak, dan bolehkah
menggunakan wangian pada bulan Ramadan?

Untuk soalan pertama, hukumnya harus berbuka bagi orang tua
yang ada kesusahan dan kepayahan untuk berpuasa. Samalah
juga hukumnya bagi orang tua dan orang sakit yang tiada harapan
sembuh Harus berbuka bagi orang yang lama sakitnya dan tiada
harapan untuk sembuh serta telah disahkan oleh doktor. Mereka
boleh membayar fidyah iaitu memberi makan seorang miskin sehari
mengikut hari yang ditinggalkannya. Ini merupakan kesenangan
dan kemudahan daripada Allah sebagaimana firman-Nya: "Allah
menghendaki kemudahan bagimu, dan Dia tidak menghendaki
kesukaran bagimu." (Al-Baqarah: 185) Firman-Nya lagi: "Dan Dia
sekali-kali tidak menjadikan untok kamu dalam agama suatu
kesempitan." Ibnu Abbas r.a. berkata: "Diberi kemudahan berbuka
bagi orang yang tua, tetapi hendaklah dia memberi makan kepada
fakir miskin tiap-tiap hari yang dia tinggalkan dan tidak perlu
mengqada puasanya." (Diriwayatkan oleh Ad-Daruqatni, dan Hakim
telah mengesahkanya). Bukhari juga meriwayatkan hadis yang
hampir sama. Firman Allah: "Dan wajib bagi orang yang tidah
mampu mengerjakannya (tidak berpuasa) membayar fidyah, (iaitu)
memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan rela
hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya."
(Al-Baqarah: 184) Maksudnya, sesiapa yang ingin menambahkan
amalannya dengan memberi orang miskin makan menurut kadar
yang telah ditetapkan, itulah yang lebih baik dan sedekahnya itu
kekal di sisi Allah. Kesimpulannya, orang tua, sama ada lelaki atau
perempuan dan pesakit yang tiada harapan sembuh dikenakan
fidyah dan bersedekah untuk menggantikan puasa yang
ditinggalkannya. Bagi soalan kedua, iaitu bolehkah wanita yang
hamil membuka puasanya kerana dikhuatiri anak di dalam
kandungannya itu meninggal dunia, jawapannya: Ya, dia boleh
berbuka. Malahan, jika ia dikuatkan lagi dengan pengesahan
daripada doktor muslim yang dipercayai dari segi ilmu perubatan
dan agamanya, dia diwajibkan berbuka. Firman Allah: "Jangan
kamu bunuh anak-anak kamu." (Al-Anaam: 151) Firman Allah lagi:
"Dan wajib bagi orang yang berat untuk menjalankannya (tidak
berpuasa) membayar fidyah, (iaitu) memberi makan seorang
miskin..." (Al-Baqarah: 184) Kebanyakan ulama mengharuskan
berbuka puasa bagi wanita yang hamil dan wanita yang
menyusukan anaknya yang bimbangkan diri mereka sebab
berpuasa itu, tetapi diwajibkan menggantikannya. Keadaan mereka
sama dengan keadaan orang yang sakit. Adapun masalah bimbang
memudaratkan bayi dalam kandungan, telah disepakati harus
berbuka puasa, cuma yang menjadi perselisihan ialah adakah wajib



diganti atau dibayar fidyah atau kedua-duanya sekali. Ibnu Umar
dan Ibnu Abbas mengharuskan bagi wanita itu membayar fidyah.
Kebanyakan ulama berpendapat dia wajib mengqadak puasanya.
Setengahnya pula berpendapat wajib ke atas wanita itu melakukan
kedua-duanya sekali. Pada pandangan saya, harus bagi wanita itu
membayar fidyah sahaja. Melihat kepada wanita yang beban
kandungan dan menyusukan bayi, tidak ada baginya menggantikan
puasanya. Setahun mengandung, setahun menyusukan anak
selepas melahirkannya. Oleh itu tidak ada masa hendak
menggantikan puasanya. Jika diwajibkan juga menggantikan
puasa, ini bermakna dia terpaksa belpuasa beberapa tahun
bersambung-sambung. Ini menyusahkannya, sedangkan Allah
tidak menyusahkan hamba-Nya. Untuk soalan ketiga pula, iaitu
tentang penggunaan wangian di bulan Ramadan, hukumnya harus.
Ia tidak merosakkan puasa. Tidak ada keterangan atau pendapat
sesiapa tentang hal ini.

Apakah Hukumnya Tidak Qadha’ puasa Ramadan sehingga
datang Ramadan yang berikutnya.

Setengah-setengah Imam mengatakan wajib ke atasnya
menggantikan puasanya dan membayar fidyah iaitu memberi
makan fakir miskin seorang sehari mengikut hari yang
ditinggalkannya. Makanan itu mengikut kebiasaan sesebuah
negeri, iaitu makanan asasinya. Satu cupak sama sukatannya
dengan setengah kilogram atau lebih sedikit. Pendapat ini mengikut
mazhab Syafii, Hambali dan sebahagian sahabat. Adapun imam-
imam yang lain tidak mewajibkannya. Secara keseluruhannya, jika
perkara seperti ini berlaku, wajiblah diqada sahaja. Memberi makan
fakir miskin atau membayar fidyah adalah lebih baik, jika tidak
melakukannya tidak menjadi kesalahan, insya-Allah, kerana Nabi
tidak mengesahkan hal seumpama ini. Adapun jika syak bilangan
hari puasa yang ditinggalkan tersebut, ikutlah kebiasaan syaknya
atau dengan yakin... Untuk menyenangkan hati serta
menyelamatkan puasanya dan agama, hendaklah dia berpuasa
lebih daripada hari yang sepatutnya dia gantikan. Baginya pahala
terhadap puasa yang ditambahnya.



CADANGAN AMALAN – AMALAN TERBAIK BULAN RAMADHAN

Cadangan amalan terbaik bulan Ramadhan yang di perturunkan disini bukan
bermaksud ini sahaja amalan terbaik, sebaliknya Ia adalah tidak bersifat
exhaustif. Dalam perjalanan menuju dan mencari kesempurnaan Ramadhan
panduan ini adalah sebahagian daripada cadangan amalan terbaik untuk
mencapai prestasi ramadhan yang terbaik

1. Amalan menyambut kedatangan Ramadhan dengan perasaan riang,
gembira, khusyuk dan tawaddhuk, penuh kesyukuran dapat betemu
Ramadhan sekali lagi
Tiada daripada seorang hamba apabila melihat ia sehari bulan Ramadhan lantas
dia memuji Allah, (kerana kedatangan bulan rahmat dengan kelebihan dan
keistimewaannya ). Kemudian dibacanya Al-Fatihah tujuh kali, melainkan di'afiat
Allah daripada sakit matanya pada bulan itu. (Al-Hadis). Bukannya melihat
kedatangan ramadhan sebagai satu bebanan dan keluh kesah ahhh…Ramadhan
lagi. Yang tertinggal tahun lepas pun belum qadha lagi

2. Amalan memperbanyakkan ibadah untuk mendapat keampunan, pahala
dan mencari malam Lailatul Qadar
Kelebihan bulan Ramadhan dan keagungannya dengan adanya Malam
LAILATULQADAR yang dirahsiakan, sehingga mendapat keampunan dan
pahala serta rahmat dan darjat tertinggi bagi orang yang berjaga mendapatkan
malam LAILATULQADAR dengan dipenuhi amal ibadat dan bertaqwa kepada
Allah, di samping sembahyangnya yang sunat, istighfar, tasbih dan berzikir
sepanjangnya.

3 Amalan sentiasa memuji kebesaran Allah SWT

Apabila engkau melihat sehari bulan maka bacalah olehmu "ALLAH HU AKBAR"
3 kali kemudian bacalah:Maksudnya: Segala kepujian bagi Allah yang telah
menjadikan aku dan telah menjadikan engkau dan telah menentukan bagi
engkau pangkat-pangkat (darjat) dan telah menjadikan engkau tanda
(kekuasaanNya bagi sekelian alam) nescaya bermegah Allah akan dia dengan
Malaikat dan firmanNya:

HAI MALAIKAT! SAKSIKANLAH KAMU, BAHAWA AKU TELAH
MERDEKAKANNYA DARI API NERAKA.

* ATAU *

YA ALLAH! ZAHIRLAH RAMADHAN ATAS KAMI DENGAN KEAMANAN DAN
DENGAN KESELAMATAN DAN KEISLAMAN, TUHANKU DAN TUHAN

ENGKAU ALLAH.



4. Amalan berfokuskan matlamat menikmati keindahan balasan syurga di
akhirat kelak
Bersabda Nabi s.a.w : bahawa syurga berlengah-lengah ia dan berhias dari
tahun ke setahun kerana masuknya bulan Ramadhan. Pada awal malam bulan
Ramadhan bertiup angin di bawah `arasy dan bergeraklah daun kayu dengan
longlainya di dalam syurga, terdengarlah desiran daun kayu, hembusan sang
bayu syurga yang teramat indahnya, seni rentak lagunya menawan seluruh
perasaan murni, maka berhiaslah bidadari sekeliannya hingga berdirilah di atas
puncak mercu syurga itu, lantas bersuaralah bidadari: Adakah orang yg hendak
meminang kami kepada Allah, kata bidadari pula Apakah malam ini namanya?
Jawab Malik Ridhwan, “hai bidadari yg cantik manis, inilah malam awal
Ramadhan”, lalu Allah berfirman:

(“Hai Ridhwan, bukalah pintu syurga Babuljannan untuk orang-orang yang
berpuasa daripada umat Muhammad. Hai Malik Zabaniah, tutuplah pintu neraka
Al-Jahim daripada umat Muhammad, Hai Jibril, belenggukan syaitan,
lontarkannya kedalam lautan supaya tidak membinasakan umat Muhammad
akan puasanya. Maka berfirman Allah pada tiap-tiap malam Ramadhan tiga kali:
Adakah orang yang meminta ampun? Akan Aku ampunkannya”.)

5. Amalan mencari dan meningkatkan kelebihan di hari Jumaat bulan
ramadhan
Sabda Nabi s.a.w : Kelebihan hari Jumaat pada bulan Ramadhan atas segala
hari yang lain seperti kelebihan Ramadhan atas segala bulan.

6. Amalan ibdah yang bersendikan keimanan, keikhlasan untuk mendapat
pengampunan.
Barangsiapa yang mengerjakan ibadat pada bulan Ramadhan dengan
keimanannya dan ikhlasnya kerana Allah, maka di ampunkan segala dosanya
yang telah lalu.

7. Amalan sentiasa mengingati dan menghayati puasa secara mendalam
(fokus minda)
Sabda Nabi s.a.w : Tidur orang yang berpuasa itu ibadat dan nafasnya itu adalah
tasbih, doanya itu mustajab, dosanya diampunkan Allah, dan amalan ibadatnya
dilipatgandakan.

8. Amalan puasa sebagai penampan dari terjerumus ke neraka
Puasa itu perisai, sedekah itu memadam kesalahan dosa seperti air
memadamkan api.

9. Amalan memperbanyakkan sedekah di bulan puasa
Semulia-mulia sedekah ialah sedekah pada bulan Ramadhan.



10. Amalan sedekah khusus untuk berbuka puasa yang ikhlas
Siapa memberi makan (berbuka puasa) kepada orang puasa maka baginya
seumpama balasan pahala orang berpuasa dengan tidak kurang sedikitpun.

11. Amalan puasa sebagai pematuhan kualiti dan panduan tanda aras
keimanan: buat apa yang di suruh, tinggal apa yang di larang
Puasa yang mematuhi piawaian kualiti menurut apa yang disuruh dan
menjauhkan segala pantang larangnya, akan membawa ganjaran diampunkan
dosanya dan jika di tambah input bertasbih, bertahlil ganjarannya dibinakan
rumah yang indah di dalam syurga.

12. Amalan memperbanyakkan sembahyang sunat dan beribadah di bulan
Ramadhan
Orang yang sembahyang pada bulan Ramadhan, tiap kali sujud dikurniakan
kepadanya seribu tujuh ratus kebajikan dan dibinakan ruman di dalam syurga
daripada permata. Bagi orang yang berpuasa dan beribadat, tujuh puluh ribu
Malaikat meminta ampun baginya daripada pagi hingga tenggelam matahari dan
dibina sebuah mahligai baginya.

13. Amalan puasa sebagai fasilitator mendapat ganjaran balasan bangkit
dari kubur dalam keadaan lapar dan dahaga tapi di bawakan makan, minum
dan buahan sebagai balasan berlapar di bulan Ramadhan
Pada hari kiamat, Allah memerintah Malik Ridhwan supaya dikeluarkan orang-
orang berpuasa daripada kuburnya dengan keadaan lapar dan dahaga, lalu
disuruh Malik Ridhwan berikan segala keinginan mereka, dari segala macam
makanan dan minuman Syurga. Maka Malik Ridhwan memerintah, anak-anak
membawa talam-talam makanan, minuman dan buah-buahan, sebagai balasan
berlapar di bulan Ramadhan.

14. Amalan tidur puasa di bulan puasa
Orang mukmin yang tidur dalam bulan puasa kerana puasa Ramadhannya dia
berbalik badannya sambil menyebut Allah, maka berkata Malaikat kepadanya : "
Allah mencucuri rahmat kepada engkau." Apabila dia berdiri maka berdoalah
hamparannya: (Wahai Tuhanku, kurniakanlah kepadanya hamparan permaidani
tebal kepadanya di dalam syurga). Apabila memakai pakaian, berdoalah pakaian:
(Wahai Tuhanku, kurniakan kepadanya pakaian syurga). Apabila memakai kasut,
berdoalah kasut: (Wahai Tuhanku, tetaplah kakinya atas Titian Sirotolmustaqim).
Apabila memegang timba, berdoalah pula timba: (Wahai Tuhanku, kurniakanlah
kepadanya gelas syurga! ). Apabila mengimbil air sembahyang, berdoalah air
itu: ( Wahai Tuhanku, sucikanlah daripada segala dosa dan kesalahan! ). Apabila
berdiri sembahyang, berdoalah rumahnya: ( Wahai Tuhanku, cahayakanlah
kuburnya dan luaskanlah / lapangkan kuburnya serta menilik Allah
kepadanya,maksudnya: hambaku berdoa dan Aku memerima! ).



15 Amalan puasa sebagai fasilitator mendapat pertolongan Allah melalui
doa malaikat

Malaikat yang banyak muka sujud kepada Allah pada hari kiamat, satu muka
sujud, satu muka melihat Syurga, satu muka melihat Neraka, satu muka melihat
`Arasy, lalu berkata Malaikat itu: Wahai Tuhanku, ampunkanlah umat
Muhammad, kasihanilah mereka!. Jangan disiksa orang yang berpuasa
Ramadhan dari umat Muhammad!.

16. Amalan puasa sebagai pembuka pintu rahmat dari awal hingga akhir
Sabda Nabi s.a.w : Bahawa pintu langit dan pintu syurga dibuka pada awal
Ramadhan hingga akhir malam Ramadhan. Tiap orang yang bersembahyang
pada malamnya ditulis baginya tiap satu sujud, seribu tujuh ratus kebajikan,
dibina rumah baginya di dalam syurga daripada emas merah indah, baginya
tujuh pintu daripada emas yang merah indah. Orang yang berpuasa pada awal
Ramadhan, di ampunkan segala dosanya hingga ke akhir bulan Ramadhan,
dibina baginya tiap -tiap hari mahligai di dalam syurga, mempunyai seribu
daripada emas dan meminta ampun baginya 70 ribu Malaikat dari pagi hingga
tenggelam matahari.

17. Amalan puasa sebagai medium penyampai hajat kepada Allah SWT
Sabda Nabi s.a.w : Bahawasanya bagi Allah beberapa kejadianNya, dijadikan
mereka supaya menyampaikan segala hajad orang dan supaya orang meminta
tolong kepadanya pada menyempurnakan segala hajat yang diperlukan. Mereka
itulah orang yang aman daripada siksa Allah.

18. Amalan puasa sebagai sebahagian pengurusan kualiti total, ibadah
Bahawa didalam syurga terdapat bilik-bilik, dilihat dari luar nampak didalannya
dan dilihat dari dalam kelihatan luarnya. Berkata sahabat: Untuk siapakah itu ya
Rasulullah? Lantas baginda menjawab: Ialah bagi orang yang baik
percakapannya, bagi orang yang memberi makan makanan, bagi orang yang
sentiasa berpuasa, bagi orang yang sembahyang di tengah malam sedang
manusia dalam nyenyak tidur.

19. Amalan puasa sebagai medium mencapai nikmat tahap ummat istimewa
Muhammad SAW berbanding umat sebelumnya
Sabda Nabi s.a.w : diberi kepada umatku lima perkara yang belum pernah diberi
kepada umat-umat dahulu sebelumnya:

Bau mulut orang berpuasa lebih daripada harum kasturi di sisi Allah.

Segala perbelanjaan dan derita lapar selama puasanya adalah syurga
balasannya.

Diampunkan dosa-dosa mereka pada malam LailatulQadar.



Amalan yang dilakukan pada bulan Ramadhan digandakan kepada sepuluh
hingga tujuh ratus kali ganda, melainkan puasa maka ianya bagiKu, Aku balas
kepadanya yang berpuasa menahan syahawatnya, makan minumnya kerana
Aku”. (Kerana Allah)

Dan mereka dikurniakan nikmat, kepada mereka keseronokan ketika berbuka
dan menemui Tuhan di Akhirat.

20. Amalan berpuasa sebagai jalan mencapai tahap mukmin sejati
Sabda Nabi s.a.w : Menunaikan yang sunat diberi balasan pahala fardu, dan
amalan fardu diberi balasan 70 kali ganda. Bulan pahala adalah bulan sabar
(sabar dalam berbuat taat kepadaNya), dan sabar itu adalah syurga balasannya.
Bulan ini dilebihkan rezeki kepada hambaNya orang mukmin, diampunkan
baginya dosa-dosa, barang siapa memberi makan kepada orang berpuasa,
pahalanya seperti memerdekakan hamba, dan diampunkan dosanya. Berkata
sahabat: Bagaimana kami tak sanggup memberi makan orang yang berpuasa
(berbuka puasa) ya Rasulullah? -Allah memberi pahala kepada orang yang
memberi seteguk susu atau sebiji kurma atau segelas air. Barang siapa
kenyangkan orang berpuasa diampunkan Tuhan dosanya, diminumkan Tuhan
dari pada kolam Haudh, sejenis minuman yang tiada dahaga-dahaga lagi
kemudiannya hingga masuk ia ke syurga dan pahalanya seperti pahala orang
berpuasa.

21. Amalan puasa kerana mencari dan menuju keredhaan Allah
Ramadhan ertinya bulan mendapatkan keredaan Allah dan keampunan
hambanya. Orang yang mendapat keredhaan dan keampunan Allah bererti
memberi jaminan (kerana ibadatnya pada bulan mulia dengan penuh taat
mendapatkan syurga anugerah Allah bagi hambaNya yang benar -benar
melakukan ibadat keranaNya pada bulan Ramadhan termulia ini dengan
ganjaran pahala sehingga seribu kali ganda dan keampunan yg banyak sekali,
teristimewa pada malam Lailatul qadar.

22. Amalan cinta kasih sayang kepada ramadhan
Apabila berakhir bulan Ramadhan, menangis wali-wali Allah kerana berpisahnya
bulan yang paling mulia yang digandakan ibadat berlipatganda daripada bulanbulan
yang lainnya. Bulan Allah mudah menerima ampun taubat: hambahambaNya,
bulan yang banyak sekali diturunkan rahmat ke alam, bulan yang
terdapat padanya malam Lailatul-qadar, suatu rahmat dan rahsia yang
dikurniakan kepada hamba-hambaNya yang solihin, yang tidak terdapat pada
bulan-bulan yang lain. Mereka menangis kerana belum tentu akan dapat
menemui bulan termulia ini pada tahun-tahun hadapan, kiranya dipanjangkan
umur?.



23. Amalan tanggapan di tinggalkan Ramadhan sebagai satu musibah
.Apabila berakhir malam bulan Ramadhan, menangislah tujuh petala langit dan
tujuh petala bumi dan segala Malaikat, kerana belalu Ramadhan berlalulah
kelebihannya, sebab musibah bagi umatku dan duduk segala Malaikat bagi
musibah, orang bertanya: Ya Rasulullah, apa itu musibah? Jawab Rasulullah

s.a.w
: kerana segala doa padanya itu mustajab, sedekah makbul, segala
kebajikan digandakan dan siksa kubur terangkat, maka apakah musibah yang
terlebih besar daripada ini bagi umatku?!

24. Amalan mencari malam Lailatul Qadar sebagai petunjuk mencari
ganjaran yang terbaik
Malam LailatulQadar adalah malam rahsia, yang turun padanya Malaikat Jibril
dan beberapa Malaikat dengan perintah Allah. Orang yang berjaga dengan alam
ibadatnya untuk mendapat malam LailatulQadar yang terahsia itu yang tidak
diketahui manusia, hanya orang-orang solihin yang muqarrabun, orang berusaha
mendapatkan malam mulia itu dengan berjaga malam pada sepuluh malam
Ramadhan yang terakhir maka diampunkan Tuhan segala dosa-dosanya.
Dipahalakannya dengan banyak, dirahmatkannya dengan penuh limpah kurnia
dan orang-orang solihin yang dikurniakan Allah mendapat malam LailatulQadar
itu suatu keberuntungan kebahagiaannya bagi akhirat, mendapat keampunan
dan rahmat terbesar, mendapat pimpinan Allah dalam hayatnya, mendapat
keredaan Allah dalam hidupnya dunia dan akhirat.

25. Amalan memperbanyakkan takbir dimalam aidilfitri
Malam Aidilfitri, malam raya, disunatkan kepada kita berjaga malam beribadat,
bertakbir `Allahu Akbar' sepanjang malamnya, akan mendapat keampunan yang
banyak, pahala yang besar, rahmat Allah tercurah kepadanya. Siapa yang
menghidupkan dua malam raya (Aidilfitri dan Aidiladha) dengan ibadatnya dan
takbirnya, tidak dimatikan hatinya pada hari yang dimatikan segala hati.

26. Amalan zikir, berjemaah, berbakti kepada ibu bapa , suami/isteri ke arah
kebajikan
Barang siapa hadir ke dalam majlis zikir pada bulan Ramadhan ditulis pada tiap
langkahnya ibadatnya setahun dan pada hari kiamat bersamaku di bawah
`Arasy. Siapa tetap berjemaah dalam bulan puasa didirikan kota yang bercahaya
indah cemerlangnya dan yang berbakti kepada ibubapanya Allah memandang
rahmat kepadanya. Isteri yang berbuat sesuatu mencari keredaan suaminya,
maka pahala yang besar, Allah kurniakan kepadanya seperti Siti Mariam dan
siapa menyampai hajat orang mukmin, Allah menunaikan seribu hajatnya. Siapa
bersedekah kepada fakir miskin (yang mempunyai anak isterinya) setiap langkah
kepadanya seribu kebajikan, dihapuskan seribu kejahatan dan diangkat seribu
darjat baginya.



27. Amalan mengawal lidah, mematuhi perkara wajib, sunat, haram, halal,
makruh untuk mendapat nikmat balasan syurga daripada Allah
Sabda Nabi s.a.w : Tidak seorang hamba yang berpuasa Ramadhan, diam tidak
berkata-kata yang sia-sia dan daripada yang haram dan yang makruh dan
sentiasa menyebut Allah (berzikir Allah), menghalalkan apa yang dihalalkan
Allah, mengharamkan apa yang diharamkan Allah, tidak mengerjakan kejahatan
sepanjang Ramadhan, telah diampunkan baginya segala dosanya dan setiap
tasbih, dibinakan sebuah rumah yang terindah di dalam syurga daripada zamrud,
di dalamnya daripada yaqut merah indah, di dalam rangka permata itu (yaqut)
terdapat sebuah khemah, di dalamnya terdapat bidadari ( Huurul`ain-isteri
syurga), terhias dengan permata bercahaya indah yang menerangkan bumi
sekelilingnya.

28. Amalan memperbanyakkan ibadah dengan rangka sasaran mendapat
kemuliaan menemui malam Lailatul Qadar
Pada malam LailatulQadar, Allah Ta'ala menyuruh akan Jibril `Alaihissalam turun
ke bumi, lalu turunlah Jibril ke dalam perhimpunan Malaikat ke bumi bersamanya
bendera hijau lalu dipacakkan di atas Ka`abah, baginya 600 sayapnya,
setengahnya tidak dibuka keduanya melainkan pada malam LailatulQadar baru
dibukakan keduanya sehingga sampai dari timur ke barat (masyriq ke magrib)
untuk menyelamatkan umat Muhammad. Lalu memberi salam kepada tiap orang
yang berjaga pada malam LailatulQadar beribadat kerana mencari keredhaan
Allah dan orang yang duduk beribadat, orang yang sembahyang dan berzikir dan
berjabat tangan sesama mereka mukmin dan mengucap amin doa orang-orang
mukmin hingga terbit fajar subuh, berkata para Malaikat kepada Jibril, apakah
Allah berikan pada hajat orang mukmin dari umat Muhammad s.a.w pada bulan
Ramadhan ini! Berkata Jibril: Bahawasanya Allah menilik kepada umat
Muhammad yang berpuasa dan beribadat kepadaNya dan dimaafkan mereka,
diampunkan dosa-dosa mereka, melainkan empat orang yang tidak diampunkan
dosanya,iaitu orang yang kekal minum arak, orang yang derhakakan Ibu
bapanya, orang yang memutuskan silaturrahim dan orang yang tidak bercakap
dengan saudaranya lebih daripada tiga hari.

29. Amalan bertakbir, bertahmid, solat sunat Aidilfitri, bermaaf-maafan
memohon keampunan daripada dosa
Apabila pada malam akhir Ramadhan dinamakan malam persalinan. Pada pagi
Hari Raya Aidilfitri didatangkan Allah Malaikat kepada tiap negeri, turunlah
mereka ke bumi, berdiri pada permukaan jalan menyeru dengan suara yang kuat,
semua mendengarnya kecuali jin dan manusia. Berkata mereka: Hai umat
Muhammad ! keluarlah kamu mengadap Tuhan yang amat mulia (Sembahyang
Raya di pagi raya) yang memberi pemberian yang berpanjangan dan
mengampun akan dosa-dosa besar. Apabila tibalah umat Muhammad ketempat
sembahyang. Firman Allah kepada Malaikat: Hai MalaikatKu, apakah balasannya
orang yang mengambil upah apabila selesai kerjanya? Jawab Malaikat: Hai
Tuhan kami, sempurnakanlah upahnya! Firman Allah : Bahawa Aku saksikan
kamu hai MalaikatKu, telah Aku jadikan pahala dari puasa mereka pada bulan
Ramadhan dan mereka mendirikan sembahyang ialah keredaanKu dan



keampunanKu kepada mereka! Maka FirmanNya lagi: Hai segala hambaKu,
pohonkanlah kamu kepadaKu, maka demi ketinggian Ku dan kebesaranKu, tiada
memohon kepadaKu hari ini akan sesuatu bagi agamamu dan duniamu,
melainkan Aku kurniakan kepadamu!



INDEKS TANDA ARAS PENGUKURAN PRESTASI RAMADHAN

Sepanjang bulan Ramadhan seharusnya kita sentiasa membuat muhasabah diri
secara berterusan untuk mengukur prestasi puasa kita, sejauh mana ia
mencapai tahap kecemerlangan yang diharapkan. Kita boleh mengukur prestasi
puasa kita melalui penetapan tanda aras sendiri akan sejauh mana ia
meningkatkan keimanan, ketaqwaan dan kemukminan diri kita. Cerminlah diri
sama ada ada penambahbaikan atau sama sahaja sebagaimana sabda
Rasulullah SAW: “Janganlah jadikan sepanjang hari puasa kamu sehingga waktu
berbuka itu sama sahaja” Ini bermakna sikap, perlakuan dan penampilan
seoseorang itu masih di tahap yang sama sama ada berpuasa atau tidak, iaitu
puasa tidak memberi kesan peningkatan keimanan dan ketqwaan. Oleh itu
penetapan indeks tanda aras prestasi Ramadhan kita sendiri, adalah panduan
mencermin diri yang terbaik dalam menilai prestasi Ramadhan kita. Antara
tanda aras prestasi yang boleh di jadikan panduan adalah seperti berikut:

Tanda Aras 1 : Peningkatan ketaqwaan

Allah mewajibkan puasa untuk umat Islam mencapai ketqwaan, sebagaimana
firmannya, “ Wahai orang yang beriman di wajibkan keatas kamu berpuasa,
sebagaimana diwajibkan ke atas umat sebelum kamu, semoga kamu bertaqwa”.
(SuraatulBaqarah (2):183) Taqwa, dalam pengertian ini bermakna
memperisaikan diri daripada kemurkaan Allah dan api neraka. Sebagai tanda
aras soal lah diri “Sudahkah puasa ini membawa kepada kita lebih takutkan Allah
SWT daripada takutkan yang selain daripadanya?. “Adakah puasa kita ini dapat
menjadi pendinding dan perisai menampan kita daripada terjerumus ke api
neraka? Bertafakur sejenak, selami secara realiti maya, tenung – tenung lah di
mana tahap kita. Berapakah skor peningkatan ketqwaan berbanding puasa
tahun lepas dan tahun – tahun sebelumnya serta apakah unjuran skor tahun
hadapan.

Tanda Aras 2: Mendekatkan diri kepada Allah



Ini dapat dicapai dengan cara banyak membaca dan menghayati pengajaran
dalam alQuran, melakukan sembahyang sunat tarawih sentiasa mengingati
Allah, berkumpul dalam majlis ilmu dan bagi mereka yang mampu pergi
mengerjakan umrah. Bagi mereka yang mampu juga di galakkan beri’tikaf
didalam mesjid terutamanya di sepuluh malam terakhir Ramadhan,
meninggalkan urusan dunia buat seketika untuk mendekatkan diri berkomunikasi
dengan Allah (Hablumminallah). Jika hidup kita dipenuhi dosa kita akan
berjauhan daripada Allah. Asas contoh tanda aras berjauhan dengan Allah dapat
di lihat dalam simptom kurang/tidak/susah untuk membaca dan menghayati al
Quran, enggan dan malu alah untuk ke masjid, majlis ilmu dan segala aktiviti
santapan rohani, tetapi cepat, pantas dan tangkas ke arah aktiviti yang
melalaikan dari mengingati Allah. Tanda aras hamba Allah yang taat kepadanya
adalah sentiasa merasa diri dekat dengan Allah dan sentiasa berazam serta
berusaha secara berterusan untuk sentiasa berada dekat dengan Allah dan
bukannya bersifat angkuh dan malu alah untuk memohon pertolongan dan
keampunan. Dimanakah titik tanda aras kedekatan kita dengan Allah?. Tepuk
dada tanya iman.

Tanda Aras 3 : Memupuk kesabaran dan keteguhan iman

Di dalam alQuran Allah menyebut perkataan sabar lebih daripada 70 kali dan
menyeru manusia supaya bersifat sabar dan deskripsi cara kepada memupuk
kesabaran melebihi 60 pendekatan. Apabila kita berpuasa kita menahan diri
daripada makan, minum, merokok, hubungan kelamin dalam waktu daripada
imsak hingga berbuka puasa. Dengan menahan diri daripada perkara tersebut
kita belajar melatih diri untuk bertahan dan bersabar. Islam memerlukan ummah
lelaki dan wanitanya yang sabar dan teguh keimanan dan pendirian dalam
menghadapai segala cubaan dan cabaran dunia, Ummah yang kuat, kental
bersatu, mampu dan bersedia mempertahankan kesucian alQuran dan hadith
dan ummah yang tidak gentar untuk menghadapi musuh – musuh Allah.



Tanda Aras 4 : Mendapat ihsan (Jalan lurus dan ikhlas) dan menjauhkan
diri daripada sikap sombong, riak dan takabbur.

Kita sering berdoa kepada tuhan memohon petunjuk ke jalan benar lagi lurus.
Dengan doa dan permohonan sedemikian kita memohon ihsan Allah untuk
menyuci diri daripada sifat negatif dan memupuk sikap positif. Ihsan bermaksud
menyembah dan mencari keredhaan Allah. Ulama Hasan al-Basree
mencadangkan, untuk mendapatkan ihsan Allah kita seharusnya bertanya diri
apabila mahu melakukan sesuatu “Adakah tindakan ini di sukai Allah?, Adakah
tindakan ini di senangi Allah? Oleh itu apabila seseorang berpuasa ia merupakan
satu medium untuk membuat refleksi dan audit diri dalam memupuk kualiti
kearah melorongkan diri ke jalan yang benar dan lurus serta menjauhi sifat riak,
sombong dan takabbur.

Tanda Aras 5 : Mengelokkan perangai: kejujuran dan keikhlasan dalam
melaksanakan tugas dan tanggungjawab.

Sabda Rasulullah SAW, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan dusta samada
dalam bentuk perkataan mahu pun perbuatan, Allah SWT tidak akan merahmati
makan dan minumnya”. (al-Bukhari). Iktibar yang dapat di ambil dari hadith ini
adalah, kita perlu memberi perhatian terhadap usaha mengelokkan perangai
kerana Rasulullah di lantik dan di hantar oleh Allah untuk di jadikan sebagai
contoh ikutan perangai yang baik dan elok. Adakah kita menurut, mengikut dan
mempraktikkan perangai yang elok yang di sebut sebagai sunnah nabi atau
sebaliknya.

Tanda Aras 6 : Mengenali diri ini boleh berubah ke arah kebaikan

Sabda Rasulullah SAW, “Setiap anak Adam itu melakukan dosa. Yang terbaik
antara mereka yang berdosa itu adalah mereka yang menyesal dan bertaubat.



Allah memberi ruang yang seluasnya untuk memohon keampunan dan taubat
menyuci diri dari dosa.

Tanda Aras 7 : Lebih banyak bersedekah

Ibn ‘Abaas berkata, “Rasulullah adalah orang yang paling banyak bersedekah
dan baginda memperbanyakkan sedekah di bulan ramadhan iaitu bulan di mana
Jibrael bertemu baginda setiap malam dari awal hingga akhir Ramadhan.” (al-
Bukhari). Sabda Rasulullah SAW “Barangsiapa yang memberi makan (berbuka)
untuk orang yang berpuasa ia akan mendapat pahala yang sama banyaknya
dengan pahala puasa orang yang diberi makan itu, tanpa mengurangkan
sedikitpun pahala orang itu. ”. Riwayat (at-Tirmidzi)

Tanda Aras 8 : Pembentukan kesatuan ummah yang padu melalui ketaatan
kepada Allah SWT

Sabda Rasulullah SAW “Umat yang hidup selepasku akan menyaksikan banyak
perbezaan berbanding dengan zamanku. Oleh itu berpeganglah kepada sunnah
ku dan sunnah para khalifah yang terpimpin. Berpegang teguh dan jangan
berganjak daripada pegangan sunnah itu. ”.(Abu Daud). Ramadhan adalah satu
kesatuan apabila kita berpuasa bersama, bersembahyang sunat tarawih
bersama, bersembahyang sunat aidilfitri bersama. Kita beribadah di lorongan
objektif yang sama iaitu untuk mendapat keredhaan Allah melalui ketaatan
kepada perintahnya. Kesatuan ummah islam sebagai satu entiti tunggal
berasaskan keimanan kepada Allah dan Rasulnya, bukan berasaskan ras, kasta
keturunan dan warna kulit adalah intipati pembentukan ummah muslim yang
bersatu dan tidak berpecah-pecah. Kesatuan tunggal ummah muslim ini hanya
boleh dicapai dengan paksi ketaatan kepada Allah dan Rasulnya sebagai
pegangan utama.




No comments:

Post a Comment